The Maze Runner (The Maze Runner #1) (56)

Penulis : James Dashner

56

Thomas menyambar lengan Minho. “Bagaimanapun caranya, aku harus bisa melewati itu!” Dia mengangguk ke arah gerombolan Griever yang menggelinding di antara mereka dan Tebing—makhluk-makhluk itu tampak seperti gumpalan lemak berduri yang menggunung, berkilat oleh lampu yang berasal dari baja. Mereka tampak jauh lebih mengancam di tengah cahaya kelabu yang samar-samar.

Thomas menanti jawaban saat Minho dan Newt saling berpandangan. Bersiap-siap bertempur nyaris lebih buruk ketimbang rasa takut memikirkannya.

“Mereka datang!” teriak Teresa. “Kita harus melakukan sesuatu!”

“Kau di depan,” akhirnya Newt harus melakukan sesuatu!”

“Kau di depan,” akhirnya Newt berkata kepada Minho, suaranya lebih lirih daripada bisikan. “Beri jalan untuk Tommy dan gadis itu. Kerjakan sekarang.”

Minho mengangguk, raut wajahnya mengeras penuh tekad. Kemudian, dia berbalik menghadap G;ader yang lain. “Kita langsung bergerak menuju Tebing! Lawan saat melewati bagian tengah, desak makhluk-makhluk itu ke arah tembok. Yang paling penting adalah membuat Thomas dan Teresa berhasil ke Lubang Griever!”

Thoms mengalihkan pandangan dari anak itu, kembali ke monster-monster yang mendekat—mereka kini hanya berjarak beberapa meter. Malangnya dia hanya mengandalkan sebuah tombak.

Kita harus terus berdekatan, katanya kepada Teresa. Biarkan yang lain bertempur—kita harus sampai ke Lubang itu. Thomas merasa seperti pengecut, tetapi dia tahu bahwa pertarungan apa pun—dan kematian apa pun—akan sia-sia jika mereka tidak berhasil memasukkan kode itu, membuka pintu ke para Kreator.

Aku tahu, sahut gadis itu. Tetap bersama.

“Siap!” teriak Minho di sebelah Thomas, mengangkat tongkatnya yang berbalut kawat berduri ke udara dengan satu tangan, tangan yang satunya lagi meemgang sebilah belati perak yang panjang. Dia menghunuskan belati itu ke gerombolan Griever, ujung salah satu belati berkita. “Sekarang!”

Pengawas itu berlari maju tanpa menunggu jawaban. Newt menyusul di belakangnya, berderap mantap, dan kemudian sisa Glader mengikuti, sekumpulan anak laki-laki yang meraung menghambur maju ke pertempuran, semua senjata teracung. Thomas memegang tangan Teresa, membiarkan teman-temannya maju, merasakan mereka berdesakan melewati dirinya, membaui keringat mereka, merasakan ketakutan mereka, menunggu kesempatan yang tepat untuk mendekati kematiannya sendiri.

Tepat ketika suara beberapa anak pertama kali membentur Griever memenuhi udara—ditingkahi lengkingan dan raungan mesin dan gemeretak kayu berbenturan dengan baja—Chuck berlari melewati Thomas, yang dengan cepat menyambar tangannya.

Chuck terhuyung ke belakang, kemudian menoleh kepada Thomas, tatapannya dipenuhi rasa takut hingga Thomas merasa hatinya hancur. Seketika, dia membuat sebuah keputusan.

“Chuck, kau ikut denganku dan Teresa.” Dia mengatakannya dengan tegas, dan memerintah, tak memberi kesempatan membantah.

Chuck menoleh ke arah pertempuran yang berlangsung. “Tapi ....” Suaranya mengecil, dan Thomas tahu anak itu menerima gagasan itu meskipun dia malu untuk mengakuinya.

Dengan segera Thomas berusaha menyelamatkan harga diri anak itu. “Kami butuh bantuanmu di Lubang Griever, berjaga-jaga bila makhluk-makhluk itu ada di dalamnya menunggu kami.”

Chuck segera mengangguk—terlalu cepat. Sekali lagi, Thomas merasakan kepedihan di hatinya, kian terdorong untuk membawa Chuck pulang dengan selamat.

“Oke, kalau begitu,” kata Thomas. “Pegang tangan Teresa. Ayo pergi.”

Chuck mematuhi perintahnya, berusaha kerasa terlihat berani. Dan, Thomas mengingatnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mungkin untuk kali pertama dalam hidupnya.

Mereka membuka jalan! Seru Teresa dalam pikiran Thomas—seolah menyengat tengkoraknya. Gadis itu menunjuk ke depan, dan Thomas melihat celah sempit terbentuk di tengah lorong, para Glader berjuang habis-habisan mendorong para Griever ke tembok.

“Sekarang!” teriak Thomas.

Dia berlari, menarik Teresa di belakangnya, Teresa menarik Chuck di belakangnya, berlari secepat mungkin, tombak dan belati teracung siap menyerang, memelesat maju ke lorong berlantai batu dipenuhi teriakan. Menuju Tebing.

Pertarungan berlangsung hebat di sekitar mereka. Para Glader berjuang, dorongan adrenalin yang meluapkan kepanikan menggerakkan mereka. Kebisingan yang bergema di tembok-tembok seolah kengerian yang ingar-bingar—teriakan orang-orang, bunyi logam saling berbenturan, gergaji berputar, cakar mencapit, anak-anak berteriak minta tolong. Semua tampak kabur, bercampur antara darah, warna kelabu, dan kilat baja berkelebat; Thomas mencoba tak melihat ke kanan dan kirinya, hanya ke depan, melewati celah sempit yang dibuat oleh para Glader.

Bahkan, sambil berlari, Thomas mengulang kembali kata-kata kode itu di benaknya. APUNG, TANGKAP, BERDARAH, KEMATIAN, KAKU, TEKAN. Mereka akan sampai beberapa meter lagi.

Ada yang menggores lenganku! Pekik Teresa. Bersamaan dengan itu, Thomas merasakan tikaman di kakinya. Anak laki-laki itu tak menoleh, ataupun menjerit. Sulitnya berkata-kata dalam keadaan sulit ini seperti luapan banjir pekat di sekeliling Thomas, memaksanya untuk menyerah. Anak itu melawannya, terus berlari maju.

Tebing tampak di sana, berakhir ke langit kelabu-gelap, kira-kira berjarak tujuh meter. Dia terus berlari ke sana, menarik teman-temannya.

Pertempuran pecah di kanan dan kiri mereka; Thomas menghindari untuk melihatnya, menghindar untuk memberi pertolongan. Sebuah Griever menggelinding langsung ke arahnya; seorang anak laki-laki, wajahnya tak terlihat, tubuhnya terjepit di cakar makhluk itu, menikam berkali-kali kulit tubuh raksasa itu, mencoba melepaskan diri. Thomas menghindar ke sebelah kiri, terus berlari. Dia mendengar jeritan saat melintas, melengking tinggi yang menandakan Glader itu kalah dalam pertarungan, berakhir mengerikan. Jeritan itu terus terdengar, membelah udara, mengatasi suara-suara pertempuran yang lain, hingga akhirnya lenyap berujung kematian. Hari Thomas bergetar, berharap itu bukan anak yang dikenalnya.

Terus berlari! Seru Teresa.

“Aku tahu!” sahut Thomas, kali ini mengucapkannya dengan lantang.

Seseorang berlari melewati Thomas, menabraknya. Sebuah Griever menyerang dari sebelah kanan, pisau-pisaunya berputar-putar. Seorang Glader mencegatnya, menyerang makhluk itu dengan dua pedang panjang, bunyi logam berdentang dan bergemerencing saat mereka bertempur. Thomas mendengar suara di kejauhan, meneriakkan kata-kata yang sama berkali-kali, yang berhubungan dengannya. Tentang melindungi dirinya saat berlari. Dia adalah minho, keputusasaan dan kelelahan terdengar dalam teriakan-teriakannya.

Thomas terus berlari.

Satu Griever hampir menangkap Chuck! Teriak Teresa, bergema keras di kepala Thomas.

Semakin banyak Griever yang menyerbu mereka, kian banyak pula Glader yang menolong. Winston telah mengambil busur dan anak panah milik Alby, melempar tombak-tombak berujung besi tajam ke semua makhluk bukan-manusia yang bergerak, lebih banyak yang memeleset ketimbang yang tepat sasaran. Beberapa anak yang tak dikenal Thomas berlarian di sisinya, memukul senjata-senjata Griever dengan senjata-senjata rakitan mereka, melompat ke atas makhluk-makhluk itu, menyerang. Suara-suara—berdebum, berdentang, jeritan-jeritan, lorongan, raungan mesin, pisau-pisau berputar, pedang-pedang berkelebat, gemeretak paku-paku berbenturan dengan lantai batu, pekikan minta tolong yang mendirikan bulu roma—semua terdengar kian ingar-bingar, tak tertahankan.

Thomas berteriak, tetapi dia terus berlari hingga mereka sampai di Tebing. Anak itu mengerem larinya, tepat di tepi tebing. Teresa dan Chuck menabraknya, nyaris membuat mereka bertiga jatuh ke jurang tak berujung. Secepat kilat, Thomas mencari-cari letak Lubang Griever. Tergantung, di tengah udara, jalinan sulur tanaman ivy terentang ke ruang kosong.

Sebelumnya, Minho dan beberapa Pelari telah menarik rangkaian sulur tanaman ivy dan mengikatnya ke sulur lain yang masih merambat di tembok. Mereka kemudian melemparkan ujung tali yang lain ke Tebing, hingga mencapai Lubanf Griever, tempat kini enam atau tujuh sulur tanaman terentang dari tepi lantai batu ke seperak lubang tak terlihat di udara, melayang di langit kosong, dan menghilang di ujungnya.

Kini saat melompat. Thomas terdiam sejenak, merasakan detik terakhir kengerian—mendengar suara-suara mengerikan di belakangnya, memandang ilusi di hadapannya—kemudian mengusinya. “Kau duluan, Teresa.” Dia ingin jadi yang terakhir melompat untuk memastikan tidak ada Griever yang menyerang Teresa atau Chuck.

Thomas terkesan karena gadis itu tak ragu-ragu melakukannya. Setelah meremas tangan Thomas, kemudian bahu Chuck, gadis itu melompat dari tepi jurang, meluruskan kakinya, dengan kedua tangan merapat di sisi-sisi tubuhnya. Thomas menahan napas hingga gadis itu masuk ke titik di sekitar tali tanaman ivy yang menghilang dan lenyap. Seakan-akan gadis itu terhapus dengan sekali usapan.

“Wow!” seru Chuck, sifat aslinya muncul sekejap.

“Memang wow,” kata Thomas. “Kau berikutnya.”

Sebelumnya anak itu membantah, Thomas menarik tangannya, meremas pundaknya. “Melompatlah dan aku akan mengangkatmu. Siap? Satu, dua, tiga!” Dia mendengus, melambungkan anak itu ke arah Lubang.

Chuck menjerit saat dia melayang di udara dan dia nyaris tak tepat di sasaran, tetapi akhirnya kakinya berhasil masuk; kemudian perut dan lengannya membentur tepian lubang tak terlihat itu sebelum dia menghilang ke dalam. Keberanian anak itu menguatkan hati Thomas. Dia menyayangi anak itu. Dia menyayanginya seolah mereka memiliki ibu yang sama.

Thomas mengencangkan tali ranselnya, memegang erat tombak rakitannya dengan tangan kanan. Suara-suara di belakangnya terdengar dahsyat dan mengerikan—dia merasa bersalah tak dapat menolong. Lakukan saja tugasmu, katanya kepada diri sendiri.

Menguatkan dirinya, dia mengentakkan tombaknya ke lantai berbatu, kemudian menapakkan kaki kirinya di tepi Tebing dan melompat, melambung ke atas menuju angkasa yang kelabu. Dia merapatkan tombak ke tubuhnya, meluruskan kedua kakinya, mengencangkan tubuhnya.


Kemudian, dia memasuki Lubang.[]

No comments:

Post a Comment