Insurgent (Divergent #2) (90)

Penulis: Suzanne Collins

47

Benakku terus-menerus mengingatkanku akan Lynn, dalam usaha untuk meyakinkanku bahwa ia sudah benar-benar pergi. Namun, aku menyingkirkan kilasan-kilasan kenangan yang muncul itu. Suatu hari nanti aku akan berhenti melakukannya, kalau aku tidak dieksekusi sebagai pengkhianat, atau apa pun yang direncanakan pemimpin baru kami. Tapi, saat ini aku berusaha keras untuk mengosongkan pikiran, berpura-pura hanya ruangan inilah yang nyata dan akan selalu begitu. Seharusnya tidak mudah, tapi ternyata iya. Aku sudah belajar cara menghalau kesedihan.

Tori dan Harrison datang ke lobi setelah beberapa saat. Tori berjalan ke sebuah kursi sambil terpincang-pincang—aku hampur lupa dengan luka tembakannya lagi, ia begitu gesit saat membunuh Jeanine tadi—dan Harrison mengikutinya.

Di belakang keduanya ada seorang Dauntless dengan jasad Jeanine tergantung dari bahunya. Si Dauntless meletakkan jasad di atas meja, seolah-olah tubuh Jenine itu batu, di hadapan deretan Erudite dan Dauntless pembelot.

Aku mendengar orang-orang terkesiap dan bergumam dari belakang, tapi tak ada yang terisak. Jeanine bukan pemimpin yang akan ditangisi orang.

Aku menatap tubuh Jeanine, yang setelah meninggal terlihat lebih kecil dibandingkan saat hidup. Ia hanya beberapa senti lebih tinggi daripada aku, rambutnya hanya sedikit lebih gelap. Sekarang ia tampak tenang, nyaris damai. Aku kesulitan mengaitkan tubuh itu dengan wanita yang kukenal, wanita tanpa hati nurani.

Jeanine itu ternyata lebih rumit daripada yang kukira. Ia menyembunyikan rahasia yang menurutnya terlalu mengerikan untuk diungkapkan, berdasarkan naluri protektif yang kacau dan kejam.

Johanna Reyes melangkah masuk ke lobi, basah kuyup akibat hujan, pakaian merahnya dicorengi warna merah yang lebih gelap. Para factionless mengapitnya, tapi ia tampaknya tidak memperhatikan mereka ataupun pistol yang mereka pegang.

“Halo,” ia menyapa Harrison dan Tori. “Kalian mau apa?”

“Aku tak tahu pemimpin Amity bisa begitu kasar,” sahut Tori sambil tersenyum masam. “Bukankah itu bertentangan dengan manifesto kalian?”

“Kalau kau benar-benar mengenali kebiasaan Amity, kau pasti tahu mereka tak punya seorang pemimpin resmi,” balas Johanna, suaranya lembut sekaligus mantap. “Tapu, aku bukan perwakilan Amity lagi. Aku mengundurkan diri demi datang kemarin.”

“Yah, aku melihatmu dan gerombolan penjaga perdamaianmu, menghalangi jalan semua orang,” kata Tori.

“Ya, itu memang ada tujuannya,” sahut Johanna. “Karena menghalangi jalan artinya berdiri di antara pistol dan orang yang tak bersalah, serta menyelamatkan banyak nyawa.”

Rona mewarnai pipinya, dan aku memikirkan itu lagi: bahaw Reyes mungkin masih cantik. Namun, kali ini aku berpikir ia cantik bukan jika bekas luka itu tak ada. Ia justru cantik dengan bekas luka itu, seperti Lynn dengan rambutnya yang dicukut, seperti Tobias dengan kenangan akan kekejaman ayahnya yang dikenakannya seperti perisai, seperti ibuku dengan baju kelabu polosnya.

“Karena kau masih sangat murah hari,” lanjut Tori, “aku ingin tahu apakah kau mau membawakan pesan untuk Amity.”

“Aku merasa tidak nyaman meninggalkanmu dan pasukanmu menegakkan keadilan sesuai kemauanmu,” kata Johanna, “tapi aku akan mengirim orang lain untuk pergi ke Amity dengan pesan itu.”

“Baiklah,” kata Tori. “Katakan pada mereka bahwa sistem politik baru akan segera dibentuk sehingga mereka tak perlu punya perwakilan. Ini, menurut kami, adalah hukuman yang adil bagi mereka karena tidak memilih mau berpihak pada siapa dalam konflik ini. Tentu saja mereka harus terus memproduksi dan mengirim makanan ke kota, tapi mereka akan diawasi oleh salah satu faksi pemimpin.”

Sesaat aku pikir Johanna akan menerjang Tori dan mencekiknya. Namun, ia hanya menegakkan tubuh dan berkata, “Cuma itu?”

“Ya.”

“Baiklah,” jawab Johanna. “Aku akan melakukan sesuatu yang berguna. Kurasa kau tak bakal mengizinkan sebagian dari kami masuk dan merawat orang-orang yang terluka di sini, ya?”

Tori memandang penuh makna ke arah Johanna.

“Kupikir juga begitu,” sahut Johanna. “Tapi ingatlah, terkadang orang yang kau tindas menjadi lebih kuat daripada yang kau inginkan.”

Ia berbalik dan berjalan keluar lobi.

Kata-kata Johanna itu membuatku heran. Aku yakin Johanna mengucapkan itu sebagai ancaman, yang lemah, tapi kata-katanya berdering di benakku seakan ada yang lain—seolah-olah yang dimaksudnya bukanlah Amity, tapi kelompok tertindas lainnya. Para factionless.

Saat memandang berkeliling ruangan, ke semua prajurit Dauntless dan semua prajurit fractionless, aku mulai melihat pola.

“Christina,” kataku. “Semua senjata dipegang para factionless.”

Christina memandang berkeliling, kemudian ke arahku, dengan dahi berkerut.

Dalam benakku aku melihat pistol Uriah diambil Therese, padahal ia sudah punya pistol. Aku melihat mulut Tobias dikatupkan hingga membentuk garis saat aku mempertanyakan persekutuan Dauntless-factionless yang rapuh, seolah merahasiakan sesuatu.

Lalu, Evelyn muncul di lobi, dengan sikap agung, seperti ratu yang kembali ke kerajaannya. Tobias tidak mengikutinya. Di mana ia?

Evelyn berdiri di balik meja tempat tubuh Jeanine Matthews terbaring. Di belakangnya, edward berjalan terpincang-pincang memasuki lobi. Evelyn mengeluarkan pistol, mengacungkannya ke gambar Jeanine yang jatuh, lalu menembak.

Ruangan langsung hening. Evelyn meletakkan pistol itu di meja, di samping kepala Jeanine.

“Terima kasih,” ujarnya. “Aku tahu kalian semua bertanya-tanya apa yang akan terjadi, jadi aku di sini untuk memberi tahu kalian.”

Tori duduk lebih tegak di kursinya dan mencondongkan tubuh ke arah Evelyn, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Evelyn tidak memperhatikan.

“Sistem faksi yang selama ini berdiri dengan menginjak-injak manusia buangan akan langsung dibubarkan,” lanjut Evelyn. “Kami tahu perubahan ini akan sulit bagi kalian, tapi—”

Kami?” sela Tori, tampak tersinggung. “Apa maksudmu dibubarkan?”

“Maksudku,” ujar Evelyn sambil memandang Tori untuk pertama kalinya, “adalah faksimu, yang hingga beberapa minggu lalu ikut berdemo bersama faksi Erudite menuntuk pembatasan makanan dan barang untuk factionless, demo yang menyebabkan penghancuran faksi Abnegation, tak akan ada lagi.”

Evelyn tersenyum sedikit.

“Dan, kalau kau memutuskan untuk angkat senjata melawan kami,” lanjutnya, “kau akan sulit menemukan senjata untuk diangkat.”

Lalu, aku melihat setiap prajurit factionless memegang pistol. Para factionless berdiri dengan jarak tertentu di pinggir ruangan, dan mereka menghilang di salah satu tangg. Mereka mengepung kami.

Begitu anggun dan begitu cerdas sehingga aku nyaris tertawa.

“Aku memerintahkan setengah pasukanku untuk mengambil senjata dari setengah pasukanmu begitu misi mereka selesai,” jelas Evelyn. “Dan aku lihat mereka berhasil. Aku menyesali tipu daya ini, tapi kami tahu kalian terbiasa menggantungkan diri pada sistem faksi seolah-olah itu ibu kalian, dan kami akan membantu kalian menapaki era baru ini.”

Membantu kami?” tuntut Tori. Ia mendorong tubuhnya hingga berdiri, lalu berjalan terpincang-pincang menghampiri Evelyn, yang dengan tenang mengambil pistol tadi, lalu mengacungkannya ke arah Tori.

“Aku kelaparan selama lebih dari satu dekade bukan untuk menyerah pada wanita Dauntless yang kakinya luka,” kata Evelyn. “Jadi, kecuali kau ingin aku menembakmu, silakan duduk bersama teman-teman mantan faksimu.”



No comments:

Post a Comment