Penulis: Suzanne
Collins
“Apa itu penting?” kataku dengan terlalu tajam. “Faksi-faksi
sudah hancur, lagi pula sejak awal semua ini konyol.”
Aku tak pernah mengatakan yang seperti itu. Aku bahkan tak
pernah memikirkannya. Tapi, aku kaget karena aku meyakini kata-kataku itu—kaget
karena ternyata pikiranku sejalan dengan Tobias.
“Aku tak bermaksud menyinggung,” ujar Christina. “Hasil tes
sebagai Erudite bukan hal buruk. Terutama sekarang.”
“Maaf. Aku cuma ... tegang. Cuma itu.”
Marcus muncul di jendela dan turun ke lantai ubin. Yang
mengejutkan, ternyata Cara gesit—ia bergerak di atas anak tangga seperti
memetik senar banyo, menyentuh setiap anak tangga sebentar dan langsung
bergerak ke yang berikutnya.
Fernando yang terakhir. Keadaannya sama seperti aku tadi,
dengan hanya satu ujung tangga yang dipegangi. Aku bergerak ke dekat jendela
agar bisa menyuruhnya berhenti kalau kau melihat tangga bergeser.
Gerakan Fernando, yang kupikir tak akan mengalami kesulitan,
ternyata lebih canggung dibandingkan yang lain. Mungkin ia menghabiskan seluruh
hidupnya di depan komputer atau buku. Ia merangkak maju, wajahnya merah, dan
memegang anak tangga dengan begitu kencang sehingga tangannya dipenuhi
bercak-bercak merah tua.
Saat baru setengah jalan menyeberangi gang, aku melihat
sesuatu keluar dari saku bajunya. Kacamatanya.
Aku berteriak, “Fernan—”
Tapi terlambat.
Kacamata itu jatuh, menghantam ujung tangga, lalu jatuh ke
trotoar.
Dalam satu gelombang, para Candor di bawah bergerak dan
menembak ke atas. Fernando menjerit, lalu roboh di tangga. Satu peluru mengenai
kakinya. Aku tak melihat peluru yang lain mengenai apa. Namun, saat melihat
tetesan darah di antara anak-anak tangga, aku tahu yang kena bukan tempat yang
bagus.
Fernando menatap Christina, wajahnya pucat. Christina
menyerbu ke depan, ke jendela, untuk meraih Fernando.
“Jangan tolol!” ujar Fernando, suaranya pelan. “Tinggalkan
aku.”
Itu kata-kata terakhirnya.[]
43
Christina kembali ke dalam kamar mandi. Kami semua diam.
“Bukannya tak punya perasaan,” kata Marcus, “tapi, kita
harus pergi sebelum para Dauntless dan factionless
memasuki gedung ini. Kalau saat ini belum.”
Aku mendengar ketukan di jendela dan menyentakkan kepala ke
samping, sesaat aku yakin itu Fernando yang berusaha masuk. Tapi, itu hanya
hujan.
Kami mengikuti Cara keluar dari kamar mandi. Sekarang, ia
yang memimpin. Cara yang paling tahu liku-liku markas Erudite. Christina
mengikuti, lalu Marcus, dan yang terakhir aku. Kami meninggalkan kamar mandi
dan memasuki koridor Erudite yang tampak seperti koridor Erudite lainnya:
pucat, terang, steril.
Tapi, koridor ini lebih aktif daripada koridor lain yang
pernah kulihat. Orang-orang berpakaian biru Erudite berlari ke sana-sini,
berkelompok atau sendiri-sendiri, sambil berteriak satu sama lain seperti,
“Mereka di pintu depan! Lari setinggi yang kau bisa!” dan “Mereka merusak lift!
Lari ke tangga!” Pada saat itu, di tengah-tengah kekacauan, barulah aku ingat
alat kejutku tertinggal di kamar mandi. Aku tak bersenjata lagi.
Dauntless pembelot juga berlari melewati kami walaupun
mereka tidak sekalut para Erudite. Aku bertanya-tanya apa yang dilakukan
Johanna, faksi Amity, dan faksi Abnegation dalam kekacauan ini. Apakah mereka
mengobati yang terluka? Atau, apakah mereka berdiri di antara para Dauntless
bersenjata dan para Erudite yang tak bersalah, menyambut peluru demi
perdamaian?
Aku bergidik. Cara membawa kami ke tangga belakang, dan kami
bergabung dengan sekelompok Erudite yang ketakutan saat menaiku tiga tangga. Lalu,
Cara mendorong pintu di lantai berikutnya dengan bahu sambil memegang pistol di
dekat dada.
Aku kenal lantai ini.
Ini lantaiku.
Pikiranku melambat. Aku hampir mati di sini. Aku
mengharapkan kematian di sini.
Lariku melambat sehingga tertinggal. Aku tak bisa keluar
dari kelinglunganku walaupun orang-orang berlari melewatiku. Marcus meneriakkan
sesuatu ke arahku, tapi suaranya teredam. Christina berlari kembali dan
meraihku, menyeretku ke ruang Kontrol-A.
Di dalam ruang kendali itu, aku melihat deretan komputer
tanpa benar-benar melihatnya. Ada selaput yang menutupi mataku. Aku berkedip
untuk menyingkirkannya. Marcus duduk di salah satu komputer, dan cara duduk di
komputer yang lain. Mereka akan mengirim semua data dari komputer Erudite ke
komputer faksi-faksi lain.
Pintu di belakangku terbuka.
Aku mendengar Caleb berkata, “Apa yang kalian lakukan di
sini?”
***
Suara Caleb menyadarkanku. Aku berbalik dan menatap tepat ke
pistolnya.
Matanya seperti mata ibuku—hijau pucat, nyaris abu-abu,
walaupun kemeja birunya menonjolkan warna itu.
“Caleb,” aku berkata. “Menurutmu apa yang kau lakukan?”
“Aku di sini untuk menghentikan apa pun yang kau lakukan!”
Suaranya bergetar. Pistol itu bergetar di tangannya.
“Kami di sini untuk menyelamatkan data Erudite yang akan
dihancurkan oleh para factionless,”
aku mnejawab. “Kurasa kau tak mau menghentikan kami.”
“Bohong,” katanya. Caleb menyentakkan kepalanya ke arah
Marcus. “Kenapa kau membawanya kalau kau memang tidak berusaha mencari data
yang lain? Sesuatu yang baginya lebih penting dibandingkan seluruh data
Erudite?”
“Jeanine memberitahumu tentang itu?” tanya Marcus. “Kau, seorang bocah?”
“Mulanya ia tidak memberitahuku,” jawab Caleb. “Tapi,
Jeanine tak mau aku memihak tanpa mengetahui fakta-faktanya!”
“Faktanya,” ujar Marcus, “adalah Jeanine takut terhadap
kenyataan, sedangkan Abnegation tidak. Tidak sama sekali. Begitu juga adikmu.
Untungnya.”
Aku memberengut. Walaupun Marcus memujiku, aku merasa ingin
menamparnya.
“Adikku,” ujar Caleb dengan lembut sambil memandangku lagi,
“tidak tahu ia terlibat apa. Tidak tahu apa yang ingin kau tunjukkan pada semua
orang ... tidak tahu itu akan menghancurkan semuanya!”
“Kita di isni untuk satu tujuan!” Sekrang, Marcus hampir
berteriak. “Kita sudah menyelesaikan misi kita. Sekarang, saat memenuhi tujuan
mengapa kita dikirim ke sini!”
Aku tak tahu tujuan atau misi apa yang Marcus maksud, tapi
Caleb tidak heran.
“Kita tidak
dikirim ke sini,” bantah Caleb. “Kita tak punya kewajiban pada siapa pun selain
diri kita sendiri.”
“Sudah kuduga orang yang menghabiskan waktu terlalu banyak
bersama Jeanine Matthews akan memiliki pikiran mementingkan diri sendiri
seperti itu. Kau begitu enggan melepaskan kenyamanan sehingga rasa egois dalam
dirimu menghabiskan sifat kemanusiaanmu!”
Aku tak ingin mendengar lagi. Sementara Caleb menatap
Marcus, aku berbalik dan menendang pergelangan tangan Caleb keras-keras.
Hantaman itu membuatnya kaget sehingga pistol jatuh dari tangannya. Aku
menendang senjata itu hingga meluncur menyeberangi lantai.
“Kau harus memercayaiku, Beatrice,” kata Caleb, dagunya
bergetar.
“Setelah kau membantu Jeanine menyiksaku? Setelah kau
membiarkannya hampir membunuhku?”
“Aku tidak membantunya meny—”
“Yang jelas kau tidak menghentikannya! Kau ada di sana waktu
itu, tapi kau cima menonton—”
“Aku bisa apa? Apa—”
“Kau bisa mencoba,
Pengecut!” aku berteriak begitu keras sehingga wajahku panas dan air mata
melompat dari mataku. “Mencoba, walau gagal, karena kau menyayangiku!”
No comments:
Post a Comment