Insurgent (Divergent #2) (83)

Penulis: Suzanne Collins

“Apa itu penting?” kataku dengan terlalu tajam. “Faksi-faksi sudah hancur, lagi pula sejak awal semua ini konyol.”

Aku tak pernah mengatakan yang seperti itu. Aku bahkan tak pernah memikirkannya. Tapi, aku kaget karena aku meyakini kata-kataku itu—kaget karena ternyata pikiranku sejalan dengan Tobias.

“Aku tak bermaksud menyinggung,” ujar Christina. “Hasil tes sebagai Erudite bukan hal buruk. Terutama sekarang.”

“Maaf. Aku cuma ... tegang. Cuma itu.”

Marcus muncul di jendela dan turun ke lantai ubin. Yang mengejutkan, ternyata Cara gesit—ia bergerak di atas anak tangga seperti memetik senar banyo, menyentuh setiap anak tangga sebentar dan langsung bergerak ke yang berikutnya.

Fernando yang terakhir. Keadaannya sama seperti aku tadi, dengan hanya satu ujung tangga yang dipegangi. Aku bergerak ke dekat jendela agar bisa menyuruhnya berhenti kalau kau melihat tangga bergeser.

Gerakan Fernando, yang kupikir tak akan mengalami kesulitan, ternyata lebih canggung dibandingkan yang lain. Mungkin ia menghabiskan seluruh hidupnya di depan komputer atau buku. Ia merangkak maju, wajahnya merah, dan memegang anak tangga dengan begitu kencang sehingga tangannya dipenuhi bercak-bercak merah tua.

Saat baru setengah jalan menyeberangi gang, aku melihat sesuatu keluar dari saku bajunya. Kacamatanya.

Aku berteriak, “Fernan—”

Tapi terlambat.

Kacamata itu jatuh, menghantam ujung tangga, lalu jatuh ke trotoar.

Dalam satu gelombang, para Candor di bawah bergerak dan menembak ke atas. Fernando menjerit, lalu roboh di tangga. Satu peluru mengenai kakinya. Aku tak melihat peluru yang lain mengenai apa. Namun, saat melihat tetesan darah di antara anak-anak tangga, aku tahu yang kena bukan tempat yang bagus.

Fernando menatap Christina, wajahnya pucat. Christina menyerbu ke depan, ke jendela, untuk meraih Fernando.

“Jangan tolol!” ujar Fernando, suaranya pelan. “Tinggalkan aku.”

Itu kata-kata terakhirnya.[]

43

Christina kembali ke dalam kamar mandi. Kami semua diam.

“Bukannya tak punya perasaan,” kata Marcus, “tapi, kita harus pergi sebelum para Dauntless dan factionless memasuki gedung ini. Kalau saat ini belum.”

Aku mendengar ketukan di jendela dan menyentakkan kepala ke samping, sesaat aku yakin itu Fernando yang berusaha masuk. Tapi, itu hanya hujan.

Kami mengikuti Cara keluar dari kamar mandi. Sekarang, ia yang memimpin. Cara yang paling tahu liku-liku markas Erudite. Christina mengikuti, lalu Marcus, dan yang terakhir aku. Kami meninggalkan kamar mandi dan memasuki koridor Erudite yang tampak seperti koridor Erudite lainnya: pucat, terang, steril.

Tapi, koridor ini lebih aktif daripada koridor lain yang pernah kulihat. Orang-orang berpakaian biru Erudite berlari ke sana-sini, berkelompok atau sendiri-sendiri, sambil berteriak satu sama lain seperti, “Mereka di pintu depan! Lari setinggi yang kau bisa!” dan “Mereka merusak lift! Lari ke tangga!” Pada saat itu, di tengah-tengah kekacauan, barulah aku ingat alat kejutku tertinggal di kamar mandi. Aku tak bersenjata lagi.

Dauntless pembelot juga berlari melewati kami walaupun mereka tidak sekalut para Erudite. Aku bertanya-tanya apa yang dilakukan Johanna, faksi Amity, dan faksi Abnegation dalam kekacauan ini. Apakah mereka mengobati yang terluka? Atau, apakah mereka berdiri di antara para Dauntless bersenjata dan para Erudite yang tak bersalah, menyambut peluru demi perdamaian?

Aku bergidik. Cara membawa kami ke tangga belakang, dan kami bergabung dengan sekelompok Erudite yang ketakutan saat menaiku tiga tangga. Lalu, Cara mendorong pintu di lantai berikutnya dengan bahu sambil memegang pistol di dekat dada.

Aku kenal lantai ini.

Ini lantaiku.

Pikiranku melambat. Aku hampir mati di sini. Aku mengharapkan kematian di sini.

Lariku melambat sehingga tertinggal. Aku tak bisa keluar dari kelinglunganku walaupun orang-orang berlari melewatiku. Marcus meneriakkan sesuatu ke arahku, tapi suaranya teredam. Christina berlari kembali dan meraihku, menyeretku ke ruang Kontrol-A.

Di dalam ruang kendali itu, aku melihat deretan komputer tanpa benar-benar melihatnya. Ada selaput yang menutupi mataku. Aku berkedip untuk menyingkirkannya. Marcus duduk di salah satu komputer, dan cara duduk di komputer yang lain. Mereka akan mengirim semua data dari komputer Erudite ke komputer faksi-faksi lain.

Pintu di belakangku terbuka.

Aku mendengar Caleb berkata, “Apa yang kalian lakukan di sini?”
***

Suara Caleb menyadarkanku. Aku berbalik dan menatap tepat ke pistolnya.

Matanya seperti mata ibuku—hijau pucat, nyaris abu-abu, walaupun kemeja birunya menonjolkan warna itu.

“Caleb,” aku berkata. “Menurutmu apa yang kau lakukan?”

“Aku di sini untuk menghentikan apa pun yang kau lakukan!” Suaranya bergetar. Pistol itu bergetar di tangannya.

“Kami di sini untuk menyelamatkan data Erudite yang akan dihancurkan oleh para factionless,” aku mnejawab. “Kurasa kau tak mau menghentikan kami.”

“Bohong,” katanya. Caleb menyentakkan kepalanya ke arah Marcus. “Kenapa kau membawanya kalau kau memang tidak berusaha mencari data yang lain? Sesuatu yang baginya lebih penting dibandingkan seluruh data Erudite?”

“Jeanine memberitahumu tentang itu?” tanya Marcus. “Kau, seorang bocah?”

“Mulanya ia tidak memberitahuku,” jawab Caleb. “Tapi, Jeanine tak mau aku memihak tanpa mengetahui fakta-faktanya!”

“Faktanya,” ujar Marcus, “adalah Jeanine takut terhadap kenyataan, sedangkan Abnegation tidak. Tidak sama sekali. Begitu juga adikmu. Untungnya.”

Aku memberengut. Walaupun Marcus memujiku, aku merasa ingin menamparnya.

“Adikku,” ujar Caleb dengan lembut sambil memandangku lagi, “tidak tahu ia terlibat apa. Tidak tahu apa yang ingin kau tunjukkan pada semua orang ... tidak tahu itu akan menghancurkan semuanya!”

“Kita di isni untuk satu tujuan!” Sekrang, Marcus hampir berteriak. “Kita sudah menyelesaikan misi kita. Sekarang, saat memenuhi tujuan mengapa kita dikirim ke sini!”

Aku tak tahu tujuan atau misi apa yang Marcus maksud, tapi Caleb tidak heran.

Kita tidak dikirim ke sini,” bantah Caleb. “Kita tak punya kewajiban pada siapa pun selain diri kita sendiri.”

“Sudah kuduga orang yang menghabiskan waktu terlalu banyak bersama Jeanine Matthews akan memiliki pikiran mementingkan diri sendiri seperti itu. Kau begitu enggan melepaskan kenyamanan sehingga rasa egois dalam dirimu menghabiskan sifat kemanusiaanmu!”

Aku tak ingin mendengar lagi. Sementara Caleb menatap Marcus, aku berbalik dan menendang pergelangan tangan Caleb keras-keras. Hantaman itu membuatnya kaget sehingga pistol jatuh dari tangannya. Aku menendang senjata itu hingga meluncur menyeberangi lantai.
“Kau harus memercayaiku, Beatrice,” kata Caleb, dagunya bergetar.

“Setelah kau membantu Jeanine menyiksaku? Setelah kau membiarkannya hampir membunuhku?”

“Aku tidak membantunya meny—”

“Yang jelas kau tidak menghentikannya! Kau ada di sana waktu itu, tapi kau cima menonton—”

“Aku bisa apa? Apa—”

“Kau bisa mencoba, Pengecut!” aku berteriak begitu keras sehingga wajahku panas dan air mata melompat dari mataku. “Mencoba, walau gagal, karena kau menyayangiku!”



No comments:

Post a Comment