Penulis: Suzanne
Collins
Aku terengah, menarik napas secukupnya. Yang kudengar
hanyalah ketak-ketuk keyboard dari
arah cara yang sedang bekerja. Caleb tampaknya tak bereaksi. Air muka
memelasnya perlahan menghilang, digantikan tatapan kosong.
“Kalian tak akan menemukan apa yang kalian cari di sini,”
ujar Caleb. “Jeanine tak akan menyimpan file
sepenting itu di komputer umum. Itu tak masuk akal.”
“Jadi, Jeanine belum menghancurkannya?” tanya Marcus.
Caleb menggeleng. “Ia tidak percaya dengan penghancuran
informasi. Hanya menahannya.”
“Wah, syukurlah kalau begitu,” jawab Marcus. “Di mana
Jeanine menyimpannya?”
“Aku tak akan mengatakannya,” tukas Caleb.
“Kurasa aku tahu,” kataku. Caleb bilang Jeanine tak akan
menyimpan informasi itu di komputer umum. Jadi, apstilah maksud Caleb, Jeanine
menyimpan informasi itu di komputer pribadi: komputer yang di kantornya atau
komputer di laboratorium yang Tori bilang kepadaku.
Caleb tidak memandangku.
Marcus memungut revolver Caleb dan membalikkannya sehingga
gagang pistol itu menonjol dari tinjunya. Lalu, ia mengayunkan tangan dan
menghantam bawah rahang Caleb. Bola mata Caleb memutar ke atas, lalu ia
tersungkur ke lantai.
Aku tak ingin tahu bagaimana Marcus melatih manuver itu
hingga begitu sempurna.
“Kita tak bisa membiarkannya lari dan memberi tahu orang
tentang apa yang kita lakukan,” kata Marcus. “Ayo. Cara bisa mengurus sisanya,
kan?”
Cara mengangguk tanpa mendongak dari komputernya. Walau
perutku terasa mual, aku mengikuti Marcus dan Christina keluar dari ruang
kendali itu dan menuju tangga.
***
Sekarang, koridor di luar kosong. Ada lembaran-lembarang
kertas dan kaki di ubinnya. Aku, Marcus, dan Christina berlari kecil sambil
berbaris menuju tangga. Aku menatap belakang kepala Marcus, bentuk tengkoraknya
tampak dari balik rambutnya yang baru dicukur.
Yang bisa kulihat saat memandang Marcus adalah ayunan ikat
pinggang menghantam Tobias dan gagang pistol yang bersarang di rahang Caleb.
Aku tak peduli Marcus menyakiti Caleb—aku juga akan melakukan itu—tapi
kenyataan bahwa Marcus adalah orang yang tahu cara menyakiti orang lain
sekaligus orang yang berparade sebagai pemimpin Abnegation yang tak menonjolkan
diri tiba-tiba membuatku begitu marah sehingga tidak bisa melihat dengan benar.
Terutama karena aku memilihnya. Aku memilih Marcus dibandingkan Tobias.
“Kakakmu itu pengkhianat,” uajr Marcus saat kami berbelok.
“Ia pantas mendapat yang lebih buruk dari itu. Tak perlu memandangku seperti
itu.”
“Tutup mulutmu!” aku membentak sambil mendorongnya dengan
keras ke dinding. Marcus terlalu terkejut sehingga tidak balas mendorongku.
“Aku membencimu, kau tahu! Aku membencimu karena apa yang kau lakukan
terhadapnya, dan yang kumaksud bukan Caleb.” Aku memajukan tubuh jingga
mendekati wajahnya dan berbisik, “Dan walaupun aku tak menembakmu, aku pasti
tak akan membantumu kalau seseorang mencoba membunuhmu, jadi sebaiknya kau
memohon kepada Tuhan agar kita tidak mengalami yang seperti itu.”
Marcus menatapku, tampak acuh tak acuh. Aku melepaskannya
dan mulai berlari menuju tangga lagi, Christina di belakangku, dan Marcus
beberapa langkah di belakang.
“Kita ke mana?” tanya Christina.
“Caleb bilang yang kita cari tak akan ada di komputer umum,
jadi pasti ada di komputer pribadi. Sejauh
yang kutahu, Jeanine hanya punya dua komputer pribadi, satu di kantornya
dan satu di laboratiorimunya,” aku menjelaskan.
“Jadi, sekarang kita ke yang mana?”
“Tori bilang laboratorium Jeanine dilindungi dengan pengaman
yang luar biasa,” kataku. “Dan aku pernah masuk ke kantornya, yang hanya
ruangan biasa.”
“Jadi ... ke lab.”
“Lantai atas.”
Kami tiba di pintu menuju tangga. Saat aku mendorongnya
hingga terbuka, sekelompok Erudite, termasuk anak-anak, berlari menuruni
tangga. Ku berpegangan ke susuran tangga dan menembus mereka menggunakan siku,
tanpa memandang wajah mereka, seolah-olah mereka bukan manusia dan hanya
dinding padat yang harus didorong ke samping.
Aku berharap curahan manusia itu berhenti, tapi justru
semakin banyak yang muncul, aliran orang berpakaian biru di bawah sinar biru
redup, bagian putih mata mereka seterang lampu, begitu kontras dari semua hal.
Di ruangan semen itu, isakan ketakutan mereka bergaung sepuluh kali lipat,
bagai jeritan setan dengan mata yang bersinar.
Saat kami hampir tiba di lantai tujuh, kerumunan itu
menipis, lalu lenyap. Aku mengusap lenganku untuk mengenyahkan hanut-hantu
rambut, lengan baju, dan kulit yang bergesekan denganku saat naik tadi. Aku
bisa melihat ujung tangga dari tempat kami berdiri.
Aku juga melihat tubuh seorang penjaga, dengan lengan
terjuntai dari ujung tangga. Dan, di atarnya berdiri seorang pria factionless dengan penutup mata.
Edward.
***
“Lihat siapa yang datang,” sambut Edward. Ia berdiri di
ujung tangga pendek yang hanya terdiri dari tujuh anak tangga, dan aku berdiri
di bawahnya. Seorang penjaga Dauntless pembelot terbaring di antara kami.
Matanya pucat. Di dadanya ada noda gelap tempat seseorang—Edward,
mungkin—menembaknya.
“Itu pakaian yang aneh untuk seseorang yang seharusnya
membenci Erudite,” katanya. “Kukira kau ada di rumah, menanti pacarmu pulang
sebagai pahlawan?”
“Kurasa kau sudah tahu,” kataku sambil menaiki anak tangga,
“itu tak akan terjadi.”
Sinar biru menimbulkan bayangan di dalam cekungan samar di
bawah tulang pipi Edward. Ia meraih ke belakang.
Kalau Edward ada di sini, itu artinya Tori sudah di atas
sini. Itu berarti Jeanine mungkin sudah mati.
Aku merasakan Christina mendekat di belakangku. Aku
mendengar napasnya.
“Kami akan melewatimu,” kataku sambil menaiki satu anak
tangga lagi.
“Ah, masa?” sahut Edward. Ia meraih pistolnya. Aku menerjang
ke depan, ke atas penjaga yang gugur itu Edward menembak, tapi tanganku sudah
mencengkeram pergelangan tangannya, sehingga ia tak bisa menembak dengan benar.
Telingaku berdenging. Kakiku berusaha mencari keseimbangan
di punggung penjaga yang sudah tewas ini.
Christina mengayunkan tinju ke atas kepalaku. Buku-buku
jarinya menghantam hidung Edward. Aku tak bisa menyeimbangkan diri di atas
tubuh itu sehingga jatuh berlutut sambil menghunjamkan kukuku ke pergelangan
tangan Edward. Ia menyingkirkanku ke samping lalu menembak lagi, mengenai kaki
Christina.
Dengan terengah, Christina menghubunskan pistolnya dan
menembak. Peluru mengenai samping tubuh Edward. Ia menjerit dan menjatuhkan
pistolnya, lalu menerjang depan. Ia jatuh di atasku, menebabkan kepalaku
menghantam salah satu anak tangga semen. Lengan penjaga yang mati menekan
tulang punggungku.
Marcus memungut pistol Edward dan mengacungkannya ke arah
kami.
“Bangun, Tris,” katanya. Dan kepada Edward: “Kau. Jangan
bergerak.”
Tanganku mencari-cari ujung anak tangga, lalu aku menarik
tubuhku dari antara Edward dan penjaga yang mati itu. Edward mendorong tubuhnya
hingga duduk di atas penjaga itu—seolah-olah penjaga itu semacam bantal—dan mencengkeram samping tubuhnya
dengan kedua tangan.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Christina.
Wajahnya mengernyit. “Ahh.
Yeah. Kena sampingnya, bukan tulang.”
Aku mengulurkan tangan ke arah Christina, untuk membantunya
berdiri.
No comments:
Post a Comment