Insurgent (Divergent #2) (84)

Penulis: Suzanne Collins

Aku terengah, menarik napas secukupnya. Yang kudengar hanyalah ketak-ketuk keyboard dari arah cara yang sedang bekerja. Caleb tampaknya tak bereaksi. Air muka memelasnya perlahan menghilang, digantikan tatapan kosong.

“Kalian tak akan menemukan apa yang kalian cari di sini,” ujar Caleb. “Jeanine tak akan menyimpan file sepenting itu di komputer umum. Itu tak masuk akal.”

“Jadi, Jeanine belum menghancurkannya?” tanya Marcus.

Caleb menggeleng. “Ia tidak percaya dengan penghancuran informasi. Hanya menahannya.”

“Wah, syukurlah kalau begitu,” jawab Marcus. “Di mana Jeanine menyimpannya?”

“Aku tak akan mengatakannya,” tukas Caleb.

“Kurasa aku tahu,” kataku. Caleb bilang Jeanine tak akan menyimpan informasi itu di komputer umum. Jadi, apstilah maksud Caleb, Jeanine menyimpan informasi itu di komputer pribadi: komputer yang di kantornya atau komputer di laboratorium yang Tori bilang kepadaku.

Caleb tidak memandangku.

Marcus memungut revolver Caleb dan membalikkannya sehingga gagang pistol itu menonjol dari tinjunya. Lalu, ia mengayunkan tangan dan menghantam bawah rahang Caleb. Bola mata Caleb memutar ke atas, lalu ia tersungkur ke lantai.

Aku tak ingin tahu bagaimana Marcus melatih manuver itu hingga begitu sempurna.

“Kita tak bisa membiarkannya lari dan memberi tahu orang tentang apa yang kita lakukan,” kata Marcus. “Ayo. Cara bisa mengurus sisanya, kan?”

Cara mengangguk tanpa mendongak dari komputernya. Walau perutku terasa mual, aku mengikuti Marcus dan Christina keluar dari ruang kendali itu dan menuju tangga.
***

Sekarang, koridor di luar kosong. Ada lembaran-lembarang kertas dan kaki di ubinnya. Aku, Marcus, dan Christina berlari kecil sambil berbaris menuju tangga. Aku menatap belakang kepala Marcus, bentuk tengkoraknya tampak dari balik rambutnya yang baru dicukur.

Yang bisa kulihat saat memandang Marcus adalah ayunan ikat pinggang menghantam Tobias dan gagang pistol yang bersarang di rahang Caleb. Aku tak peduli Marcus menyakiti Caleb—aku juga akan melakukan itu—tapi kenyataan bahwa Marcus adalah orang yang tahu cara menyakiti orang lain sekaligus orang yang berparade sebagai pemimpin Abnegation yang tak menonjolkan diri tiba-tiba membuatku begitu marah sehingga tidak bisa melihat dengan benar.

Terutama karena aku memilihnya. Aku memilih Marcus dibandingkan Tobias.

“Kakakmu itu pengkhianat,” uajr Marcus saat kami berbelok. “Ia pantas mendapat yang lebih buruk dari itu. Tak perlu memandangku seperti itu.”

“Tutup mulutmu!” aku membentak sambil mendorongnya dengan keras ke dinding. Marcus terlalu terkejut sehingga tidak balas mendorongku. “Aku membencimu, kau tahu! Aku membencimu karena apa yang kau lakukan terhadapnya, dan yang kumaksud bukan Caleb.” Aku memajukan tubuh jingga mendekati wajahnya dan berbisik, “Dan walaupun aku tak menembakmu, aku pasti tak akan membantumu kalau seseorang mencoba membunuhmu, jadi sebaiknya kau memohon kepada Tuhan agar kita tidak mengalami yang seperti itu.”

Marcus menatapku, tampak acuh tak acuh. Aku melepaskannya dan mulai berlari menuju tangga lagi, Christina di belakangku, dan Marcus beberapa langkah di belakang.

“Kita ke mana?” tanya Christina.

“Caleb bilang yang kita cari tak akan ada di komputer umum, jadi pasti ada di komputer pribadi. Sejauh  yang kutahu, Jeanine hanya punya dua komputer pribadi, satu di kantornya dan satu di laboratiorimunya,” aku menjelaskan.

“Jadi, sekarang kita ke yang mana?”

“Tori bilang laboratorium Jeanine dilindungi dengan pengaman yang luar biasa,” kataku. “Dan aku pernah masuk ke kantornya, yang hanya ruangan biasa.”

“Jadi ... ke lab.”

“Lantai atas.”

Kami tiba di pintu menuju tangga. Saat aku mendorongnya hingga terbuka, sekelompok Erudite, termasuk anak-anak, berlari menuruni tangga. Ku berpegangan ke susuran tangga dan menembus mereka menggunakan siku, tanpa memandang wajah mereka, seolah-olah mereka bukan manusia dan hanya dinding padat yang harus didorong ke samping.

Aku berharap curahan manusia itu berhenti, tapi justru semakin banyak yang muncul, aliran orang berpakaian biru di bawah sinar biru redup, bagian putih mata mereka seterang lampu, begitu kontras dari semua hal. Di ruangan semen itu, isakan ketakutan mereka bergaung sepuluh kali lipat, bagai jeritan setan dengan mata yang bersinar.

Saat kami hampir tiba di lantai tujuh, kerumunan itu menipis, lalu lenyap. Aku mengusap lenganku untuk mengenyahkan hanut-hantu rambut, lengan baju, dan kulit yang bergesekan denganku saat naik tadi. Aku bisa melihat ujung tangga dari tempat kami berdiri.

Aku juga melihat tubuh seorang penjaga, dengan lengan terjuntai dari ujung tangga. Dan, di atarnya berdiri seorang pria factionless dengan penutup mata.

Edward.
***

“Lihat siapa yang datang,” sambut Edward. Ia berdiri di ujung tangga pendek yang hanya terdiri dari tujuh anak tangga, dan aku berdiri di bawahnya. Seorang penjaga Dauntless pembelot terbaring di antara kami. Matanya pucat. Di dadanya ada noda gelap tempat seseorang—Edward, mungkin—menembaknya.

“Itu pakaian yang aneh untuk seseorang yang seharusnya membenci Erudite,” katanya. “Kukira kau ada di rumah, menanti pacarmu pulang sebagai pahlawan?”

“Kurasa kau sudah tahu,” kataku sambil menaiki anak tangga, “itu tak akan terjadi.”

Sinar biru menimbulkan bayangan di dalam cekungan samar di bawah tulang pipi Edward. Ia meraih ke belakang.

Kalau Edward ada di sini, itu artinya Tori sudah di atas sini. Itu berarti Jeanine mungkin sudah mati.

Aku merasakan Christina mendekat di belakangku. Aku mendengar napasnya.

“Kami akan melewatimu,” kataku sambil menaiki satu anak tangga lagi.

“Ah, masa?” sahut Edward. Ia meraih pistolnya. Aku menerjang ke depan, ke atas penjaga yang gugur itu Edward menembak, tapi tanganku sudah mencengkeram pergelangan tangannya, sehingga ia tak bisa menembak dengan benar.

Telingaku berdenging. Kakiku berusaha mencari keseimbangan di punggung penjaga yang sudah tewas ini.

Christina mengayunkan tinju ke atas kepalaku. Buku-buku jarinya menghantam hidung Edward. Aku tak bisa menyeimbangkan diri di atas tubuh itu sehingga jatuh berlutut sambil menghunjamkan kukuku ke pergelangan tangan Edward. Ia menyingkirkanku ke samping lalu menembak lagi, mengenai kaki Christina.

Dengan terengah, Christina menghubunskan pistolnya dan menembak. Peluru mengenai samping tubuh Edward. Ia menjerit dan menjatuhkan pistolnya, lalu menerjang depan. Ia jatuh di atasku, menebabkan kepalaku menghantam salah satu anak tangga semen. Lengan penjaga yang mati menekan tulang punggungku.

Marcus memungut pistol Edward dan mengacungkannya ke arah kami.

“Bangun, Tris,” katanya. Dan kepada Edward: “Kau. Jangan bergerak.”

Tanganku mencari-cari ujung anak tangga, lalu aku menarik tubuhku dari antara Edward dan penjaga yang mati itu. Edward mendorong tubuhnya hingga duduk di atas penjaga itu—seolah-olah penjaga itu semacam bantal—dan mencengkeram samping tubuhnya dengan kedua tangan.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Christina.

Wajahnya mengernyit. “Ahh. Yeah. Kena sampingnya, bukan tulang.”

Aku mengulurkan tangan ke arah Christina, untuk membantunya berdiri.



No comments:

Post a Comment