Penulis: Suzanne
Collins
“Kami akan pergi bersama kalian?” tanya Cara. “Tentu saja
tidak semuanya ikut, tapi sebagian dari kami harus pergi. Bagaimana cara kalian
menjelajahi markas Erudite tanpa bantuan kami?”
“Kalian tentu sadar kalian bisa tertembak kalau ikut bersama
kami,” Christina mengingatkan. Ia tersenyum. “Dan, tak mungkin bersembunyi di
belakang kami karena kalian tak ingin kacamata kalian pecah, atau apalah.”
Cara melepaskan kacamatanya dan mematahkannya jadi dua,
tepat di tengah.
“Kami sudah mempertaruhkan nyawa dengan meninggalkan faksi
kami,” kata Cara, “dan kami akan melakukannya lagi untuk menyelamatkan faksi
kami itu.”
“Selain itu,” terdengar suara kecil dari belakang Cara.
Seorang anak perempuan yang tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun mengintip
dari siku Cara. Rambutnya hitam dan pendek, seperti rambutku, dan ada lingkaran
rambut yang mengelilingi kepadalanya. “Kami punya alat-alat yang berguna.”
Aku dan Christina saling pandang.
Aku bertanya, “Alat macam apa?”
“Ini baru prototipe,” sahut Fernando, “jadi tak perlu
memeriksanya.”
“Memeriksa bukan keahlian kami,” jawab Christina.
“Jadi, bagaimana cara kalian memperbaiki barang-barang?”
tanya anak itu.
“Kami tidak melakukannya,” kata Christina sambil mendesah.
“Barang-barang itu cuma jadi makin rusak.”
Gadis kecil itu mengangguk. “Entropi.”
“Apa?”
“Entropi,” kicaunya, “adalah teori yang menyatakan bahwa
semua materi di alam semesta ini perlahan-lahan mengarah ke temperatur yang
sama. Juga, dikenal sebagai heath death
atau ‘panas yang mematikan’.”
“Elia,” tegur Cara, “itu penyederhanaan yang berlebihan.”
Elia menjulurkan lidahnya ke arah Cara. Aku tak bisa menahan
tawa. Aku tak pernah melihat seorang Erudite menjulurkan lidahnya. Tapi, aku
juga tak pernah berinteraksi dengan banyak Erudite yang masih muda. Hanya
Jeanine dan orang-orang yang bekerja untuknya. Termasuk kakakku.
Fernando berjongkok di samping salah satu tempat tidur dan
mengeluarkan kotak. Ia mencari-cari di dalam kotak it u selama beberapa saat,
lalu mengeluarkan sebuah cakram bulat kecil. Cakram itu terbuat dari logam
pucat yang sering kulihat di markas Erudite, tapi tak pernah kulihat di tempat
lain. Ia menyodorkan benda yang ada di telapak tangannya itu ke arahku. Saat
aku mengulurkan tangan, Fernando menyentakkannya dariku.
“Hati-hati!” katanya. “Aku membawa ini dari markas. Ini
bukan benda yang kami buat di sini. Apakah kau ada di sana ketika mereka
menyerang faksi Candor?”
“Ya,” aku menjawab. “Tepat
di sana.”
“Ingat saat kaca pecah?”
“Kau ada di sana?”
tanyaku sambil menyipitkan mata.
“Tidak. Mereka merekam kejadian itu dan menayangkannya di
markas Erudite,” jelas Fernando. “Nah, kelihatannya kaca itu pecah karena
mereka menembaknya, padahal itu tidak benar. Salah satu prajurit Dauntless
melemparkan benda seperti ini ke dekat jendela. Benda ini mengeluarkan
sinyal yang tak terdengar, tapi dapat menyebabkan kaca pecah.”
“Oke,” kataku. “Apa gunanya ini untuk kami?”
“Kalian akan melihat bahwa perhatian orang-orang bakal
teralihkan saat semua jendela mereka hancur,” katanya sambil tersenyum kecil.
“Terutama di markas Erudite yang banyak jendelanya.”
“Betul juga,” kataku.
“Kalian punya apa lagi?” tanya Christina.
“Faksi Amity bakal suka ini,” jawab Cara. “Mana dia? Ah.
Ini.”
Ia mengambil sebuah kotak hitam plastik yang ukurannya cukup
kecil sehingga bisa digenggam. Di bagian atas kotak itu ada dua potong logam
yang tampak seperti gigi. Ia menekan sakelar di bawah kotak, lalu segaris
cahaya biru terentang di celah di antara kedua gigi tadi.
“Fernando,” panggil Cara. “Mau mendemonstrasikannya?”
“Kau bercanda, ya?” elak Fernando sambil melotot. “Aku tak
akan melakukan itu lagi. Kau berbahaya kalau pegang benda itu.”
Cara menyungingkan cengiran ke arah Fernando lalu
menjelaskan, “Jika aku menyentuhkan alat kejut ini ke seseorang, ia akan merasa
kesakitan, lalu lumpuh. Fernando mengetahuinya kemarin, dengan cara yang
menyakitkan. Aku membuat ini agar orang-orang Amity dapat mempertahankan diri
sendiri tanpa menembak orang.”
“Wah ...,” aku mengerutkan kening, “kau pengertian sekali.”
“Yah, teknologi seharusnya membuat hidup jadi lebih baik,”
jelas Cara. “Apa pun yang kau yakini, selalu ada teknologi untukmu.”
Apa yang ibuku bilang di dalam simulasi itu? “Aku khawatir
kau memandang buruk Erudite akibat semua pidato ayahmu tentang mereka.”
Bagaimana jika ibuku benar, bahkan walaupun
ibuku yang itu hanyalah bagian dari suatu simulasi? Ayah mengajariku
untuk memandang Erudite dengan cara tertentu. Ia tak pernah mengajariku bahwa
Erudite tidak menilai keyakinan orang, tapi merancang barang-barang yang sesuai
dengan keyakinan yang mereka pegang itu. Ayahku tak pernah mengatakan bahwa
mereka juga bisa bersikap lucu atau bahkan bisa mengkritisi faksi mereka
sendiri.
Cara mengacungkan alat kejut itu ke arah Fernando dan
tertawa saat pemuda itu melompat ke belakang.
Ayahku tak pernah mengatakan bahwa seorang Erudite mau
menawarkan bantuan kepadaku, bahkan setelah aku membunuh adiknya.
***
Serangan akan dimulai pada sore hari, sebelum hari terlalu
gelap sehingga tak bisa melihat ban lengan biru yang menandai sebagian
Dauntless pembelot. Segera setelah rencana kami matang, kami berjalan melintasi
kebun menuju area terbuka tempat truk-truk diparkir. Saat aku muncul dari
pepohonan, aku melihat Johanna Reyes bertengger di kap salah satu truk dengan
kunci tergantung dari jarinya.
Dibelakangnya ada iring-iringan kecil kendaraan yang
dipenuhi faksi Amity. Namun ternyata, bukan hanya Amity yang ikut, karena Abnegation, dengan tatanan
rambut yang sederhana dan mulut yang diam, juga turut serta. Robert, kakak
Susan, ada di antara mereka.
Johanna melompat turun dari kap truk. Di bagian belakang
truk yang tadi didudukinya ada setumpuk peti kayu yang bertanda APEL, TEPUNG,
dan JAGUNG. Untung kami hanya perlu memasukkan dua orang di belakang truk.
“Halo, Johanna,” sapa Marcus.
“Marcus,” balas Johanna. “Kuharap kau tak keberatan jika
kami menemanimu ke kota.”
“Tentu saja tidak,” jawab Marcus. “Silakan duluan.”
Johanna memberikan kunci kepada Marcus, lalu memanjat ke bagian
belakang salah satu truk lain. Christina berjalan ke bagian depan, sedangkan
aku pergi ke bagian belakang truk, diikuti Fernando.
“Kau tak mau duduk di depan?” tanya Christina. “Padahal, kau
mengaku dirimu itu Dauntless ....”
“Aku pilih bagian trusk yang paling tidak membuatku muntah,”
kataku.
“Muntah itu bagian dari kehidupan.”
Saat aku hendak bertanya ia ingin muntah berapa kali di masa
mendatang, truk melonjak ke depan. Aku mencengkeram bagian pinggir truk dengan
kedua tangan agar tidak jatuh. Namun setelah bebrapa menit, setelah terbiasa
dengan lonjakan dan entakannya, aku melepaskan peganganku. Trusk-truk yang lain
meluncur di depan kami, di belakang truk Johanna yang memimpin jalan.
Aku measa tenang hingga kami mencapai pagar perbatasan. Aku
menduga akan bertemu penjaga yang tadi menghentikan kami ketika kami masuk,
tapi ternyata pagar itu ditinggalkan, dalam keadaan terbuka. Aku gemetaran,
mulai dari dadaku, lalu merambat ke tanganku. Saat bertemu orang-orang baru dan
menyusun rencana, aku lupa bahwa rencanaku adalah berjalan langsung ke
pertempuran yang dapat merenggut nyawaku. Tepat setelah aku menyadari bahwa
hidupku berharga untuk dijalani.
No comments:
Post a Comment