Insurgent (Divergent #2) (79)

Penulis: Suzanne Collins

“Kami akan pergi bersama kalian?” tanya Cara. “Tentu saja tidak semuanya ikut, tapi sebagian dari kami harus pergi. Bagaimana cara kalian menjelajahi markas Erudite tanpa bantuan kami?”

“Kalian tentu sadar kalian bisa tertembak kalau ikut bersama kami,” Christina mengingatkan. Ia tersenyum. “Dan, tak mungkin bersembunyi di belakang kami karena kalian tak ingin kacamata kalian pecah, atau apalah.”

Cara melepaskan kacamatanya dan mematahkannya jadi dua, tepat di tengah.

“Kami sudah mempertaruhkan nyawa dengan meninggalkan faksi kami,” kata Cara, “dan kami akan melakukannya lagi untuk menyelamatkan faksi kami itu.”

“Selain itu,” terdengar suara kecil dari belakang Cara. Seorang anak perempuan yang tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun mengintip dari siku Cara. Rambutnya hitam dan pendek, seperti rambutku, dan ada lingkaran rambut yang mengelilingi kepadalanya. “Kami punya alat-alat yang berguna.”

Aku dan Christina saling pandang.

Aku bertanya, “Alat macam apa?”

“Ini baru prototipe,” sahut Fernando, “jadi tak perlu memeriksanya.”

“Memeriksa bukan keahlian kami,” jawab Christina.

“Jadi, bagaimana cara kalian memperbaiki barang-barang?” tanya anak itu.

“Kami tidak melakukannya,” kata Christina sambil mendesah. “Barang-barang itu cuma jadi makin rusak.”

Gadis kecil itu mengangguk. “Entropi.”

“Apa?”

“Entropi,” kicaunya, “adalah teori yang menyatakan bahwa semua materi di alam semesta ini perlahan-lahan mengarah ke temperatur yang sama. Juga, dikenal sebagai heath death atau ‘panas yang mematikan’.”

“Elia,” tegur Cara, “itu penyederhanaan yang berlebihan.”

Elia menjulurkan lidahnya ke arah Cara. Aku tak bisa menahan tawa. Aku tak pernah melihat seorang Erudite menjulurkan lidahnya. Tapi, aku juga tak pernah berinteraksi dengan banyak Erudite yang masih muda. Hanya Jeanine dan orang-orang yang bekerja untuknya. Termasuk kakakku.

Fernando berjongkok di samping salah satu tempat tidur dan mengeluarkan kotak. Ia mencari-cari di dalam kotak it u selama beberapa saat, lalu mengeluarkan sebuah cakram bulat kecil. Cakram itu terbuat dari logam pucat yang sering kulihat di markas Erudite, tapi tak pernah kulihat di tempat lain. Ia menyodorkan benda yang ada di telapak tangannya itu ke arahku. Saat aku mengulurkan tangan, Fernando menyentakkannya dariku.

“Hati-hati!” katanya. “Aku membawa ini dari markas. Ini bukan benda yang kami buat di sini. Apakah kau ada di sana ketika mereka menyerang faksi Candor?”

“Ya,” aku menjawab. “Tepat di sana.”

“Ingat saat kaca pecah?”

Kau ada di sana?” tanyaku sambil menyipitkan mata.

“Tidak. Mereka merekam kejadian itu dan menayangkannya di markas Erudite,” jelas Fernando. “Nah, kelihatannya kaca itu pecah karena mereka menembaknya, padahal itu tidak benar. Salah satu prajurit Dauntless melemparkan benda seperti ini  ke dekat jendela. Benda ini mengeluarkan sinyal yang tak terdengar, tapi dapat menyebabkan kaca pecah.”

“Oke,” kataku. “Apa gunanya ini untuk kami?”

“Kalian akan melihat bahwa perhatian orang-orang bakal teralihkan saat semua jendela mereka hancur,” katanya sambil tersenyum kecil. “Terutama di markas Erudite yang banyak jendelanya.”

“Betul juga,” kataku.

“Kalian punya apa lagi?” tanya Christina.

“Faksi Amity bakal suka ini,” jawab Cara. “Mana dia? Ah. Ini.”

Ia mengambil sebuah kotak hitam plastik yang ukurannya cukup kecil sehingga bisa digenggam. Di bagian atas kotak itu ada dua potong logam yang tampak seperti gigi. Ia menekan sakelar di bawah kotak, lalu segaris cahaya biru terentang di celah di antara kedua gigi tadi.

“Fernando,” panggil Cara. “Mau mendemonstrasikannya?”

“Kau bercanda, ya?” elak Fernando sambil melotot. “Aku tak akan melakukan itu lagi. Kau berbahaya kalau pegang benda itu.”

Cara menyungingkan cengiran ke arah Fernando lalu menjelaskan, “Jika aku menyentuhkan alat kejut ini ke seseorang, ia akan merasa kesakitan, lalu lumpuh. Fernando mengetahuinya kemarin, dengan cara yang menyakitkan. Aku membuat ini agar orang-orang Amity dapat mempertahankan diri sendiri tanpa menembak orang.”

“Wah ...,” aku mengerutkan kening, “kau pengertian sekali.”

“Yah, teknologi seharusnya membuat hidup jadi lebih baik,” jelas Cara. “Apa pun yang kau yakini, selalu ada teknologi untukmu.”

Apa yang ibuku bilang di dalam simulasi itu? “Aku khawatir kau memandang buruk Erudite akibat semua pidato ayahmu tentang mereka.” Bagaimana jika ibuku benar, bahkan walaupun  ibuku yang itu hanyalah bagian dari suatu simulasi? Ayah mengajariku untuk memandang Erudite dengan cara tertentu. Ia tak pernah mengajariku bahwa Erudite tidak menilai keyakinan orang, tapi merancang barang-barang yang sesuai dengan keyakinan yang mereka pegang itu. Ayahku tak pernah mengatakan bahwa mereka juga bisa bersikap lucu atau bahkan bisa mengkritisi faksi mereka sendiri.

Cara mengacungkan alat kejut itu ke arah Fernando dan tertawa saat pemuda itu melompat ke belakang.

Ayahku tak pernah mengatakan bahwa seorang Erudite mau menawarkan bantuan kepadaku, bahkan setelah aku membunuh adiknya.
***

Serangan akan dimulai pada sore hari, sebelum hari terlalu gelap sehingga tak bisa melihat ban lengan biru yang menandai sebagian Dauntless pembelot. Segera setelah rencana kami matang, kami berjalan melintasi kebun menuju area terbuka tempat truk-truk diparkir. Saat aku muncul dari pepohonan, aku melihat Johanna Reyes bertengger di kap salah satu truk dengan kunci tergantung dari jarinya.

Dibelakangnya ada iring-iringan kecil kendaraan yang dipenuhi faksi Amity. Namun ternyata, bukan hanya Amity yang  ikut, karena Abnegation, dengan tatanan rambut yang sederhana dan mulut yang diam, juga turut serta. Robert, kakak Susan, ada di antara mereka.

Johanna melompat turun dari kap truk. Di bagian belakang truk yang tadi didudukinya ada setumpuk peti kayu yang bertanda APEL, TEPUNG, dan JAGUNG. Untung kami hanya perlu memasukkan dua orang di belakang truk.

“Halo, Johanna,” sapa Marcus.

“Marcus,” balas Johanna. “Kuharap kau tak keberatan jika kami menemanimu ke kota.”

“Tentu saja tidak,” jawab Marcus. “Silakan duluan.”

Johanna memberikan kunci kepada Marcus, lalu memanjat ke bagian belakang salah satu truk lain. Christina berjalan ke bagian depan, sedangkan aku pergi ke bagian belakang truk, diikuti Fernando.

“Kau tak mau duduk di depan?” tanya Christina. “Padahal, kau mengaku dirimu itu Dauntless ....”

“Aku pilih bagian trusk yang paling tidak membuatku muntah,” kataku.

“Muntah itu bagian dari kehidupan.”

Saat aku hendak bertanya ia ingin muntah berapa kali di masa mendatang, truk melonjak ke depan. Aku mencengkeram bagian pinggir truk dengan kedua tangan agar tidak jatuh. Namun setelah bebrapa menit, setelah terbiasa dengan lonjakan dan entakannya, aku melepaskan peganganku. Trusk-truk yang lain meluncur di depan kami, di belakang truk Johanna yang memimpin jalan.

Aku measa tenang hingga kami mencapai pagar perbatasan. Aku menduga akan bertemu penjaga yang tadi menghentikan kami ketika kami masuk, tapi ternyata pagar itu ditinggalkan, dalam keadaan terbuka. Aku gemetaran, mulai dari dadaku, lalu merambat ke tanganku. Saat bertemu orang-orang baru dan menyusun rencana, aku lupa bahwa rencanaku adalah berjalan langsung ke pertempuran yang dapat merenggut nyawaku. Tepat setelah aku menyadari bahwa hidupku berharga untuk dijalani.



No comments:

Post a Comment