Penulis: Suzanne
Collins
“Seminggu sebelum simulasi penyerangan, para pemimpin
Abnegation memutuskan sudah saatnya untuk mengungkapkan informasi yang ada
dalam file itu kepada semua orang. Semua orang, di seluruh kota. Kami
berniat untuk mengungkapkannya, kurang lebih tujuh hari setelah serangan
simulasi. Tentu saja kami tak dapat melakukannya.
“Jeanine tidak mau kau mengungkapkan apa yang ada di luar
pagar perbatasan? Kenapa tidak? Lagi pula, bagaimana ia tahu tentang itu? Aku
pikir kau bilang cuma para pemimpin Abnegation yang tahu.”
“Kita bukan berasal
dari sini, Beatrice. Kita semua ditempatkan di sini, untuk satu tujuan.
Beberapa saat lalu, faksi Abnegation terpaksa meminta bantuan faksi Erudite demi
mencapai tujuan itu, tapi segalanya berjalan ke arah yang salah akibat Jeanine.
Karena ia tak mau melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Ia lebih suka
melakukan pembunuhan.”
Ditempatkan di
sini.
Benakku seakan berdengung akibat informasi itu. Aku
mencengkeram pinggiran bangku di bawahku.
“Apa yang seharusnya kita lakukan?” kataku, dengan suara
yang lebih seperti bisikan.
“Aku sudah memberitahumu cukup banyak untuk meyakinkanmu
bahwa aku bukan pembohong. Sedangkan sisanya, aku benar-benar merasa tak mampu
menjelaskan itu kepadamu. Aku hanya memberitahumu sebanyak ini karena
situasinya semakin genting.”
Genting. Tiba-tiba aku mengerti masalahnya. Para factionless berencana untuk
menghancurkan, bukan hanya sosok-sosok penting di faksi Erudite, melainkan juga
semua data yang mereka miliki. Mereka akan membumihanguskan semuanya.
Aku tak pernah menganggap itu rencana bagus. Tapi, aku tahu
kami bisa pulih kembali, karena Erutie masih tahu informasi yang relevan, bahkan jika mereka tak memiliki data
mereka. Tpai, ini sesuatu yang tidak diketahui, bahkan oleh seorang Erudite
paling pintar sekalipun. Sesuatu yang, jika semuanya dibumihanguskan, tak dapat
kami buat kembali.
“Kalau aku membantumu, aku mengkhianati Tobias. Aku bakal
kehilangan ia.” Aku menelan ludah. “Jadi, kau harus memberikan alasan yang
bagus.”
“Selain kebaikan untuk semua orang di masyarakat kita?”
Marcus mengerutkan hidung dengan jijik. “Itu tak cukup bagimu?”
“Masyarakat kita terbelah-belah. Jadi tidak, itu tidak
cukup.”
Marcus mendesah.
“Orangtuamu meninggal demi dirimu, itu benar. Tapi, pada malam saat kau hampir dieksekusi itu,
ibumu berada di markas Abnegation bukan untuk menyelamatkanmu. Ia tak tahu kau
ada di sana. Saat itu ia berusaha mengambil file
itu dari Jeanine. Begitu mendengar kau bakal mati, ia berbegas menyelamatkanmu,
dan meninggalkan file itu di tangan
Jeanine.”
“Ibuku tidak bilang begitu,” bantahku dengan hati panas.
“Ibumu berbohong. Karena ia harus melakukan itu. Tapi
Beatrice, intinya adalah ... intinya, ibumu tahu ia mungkin tak dapat keluar
dari markas Abnegation hidup-hidup, tapi ia tetap harus mencobanya. File ini, adalah sesuatu yang membuatnya
rela mengorbankan nyawa. Paham?”
Faksi Abnegation selalu rela mati demi siapa pun, kawan atau
lawan, jika situasinya mengharuskan begitu. Mungkin karena itulah mereka sulit
bertahan hidup dalam situasi berbahaya. Namun, hanya sedikit yang membuat mereka
rela mati. Tidak banyak hal di dunia fana ini yang mereka nilai tinggi.
Jadi, jika Marcus mengatakan yang sebenarnya, dan jika ibuku
benar-benar rela mati agar informasi tersebut diumumkan ... aku akan melakukan
apa pun untuk meneruskan apa yang gagal ibuku lakukan itu.
“Kau mencoba memanipulasiku. Benar, kan?”
“Kurasa,” sahut Marcus saat bayangan menyelinap ke rongga
matanya seperti air hitam, “itu sesuatu yang harus kau putuskan sendiri.”[]
38
Aku berjalan pelan-pelan saat kembali ke rumah keluarga
Eaton sambil mengingat-ingat kata-kata ibu ketika menyelamatkanku dari tangki
sewaktu serangan simulasi terjadi. Tentang ibu yang mengawasi jalur kereta
sejak serangan dimulai. Ibu tak tahu apa
yang harus ibu lakukan saat menemukanmu, tapi niat awal ibu hanyalah untuk
menyelamatkanmu.
Tapi, saat aku memutar ulang kenangan suara ibuku di benakku,
kedengarannya berbeda. Ibu tak tahu apa
yang harus ibu lakukan, saat
menemukanmu. Artinya: Ibu tak tahu bagaimana cara menyelamatkanmu dan file itu. Tapu, niat awal ibu hanyalah untuk menyelamatkanmu.
Aku menggeleng. Begitukah cara ibuku mengatakannya, atau
apakah ingatanku memanipulasi diriku setelah mendengar kata-kata Marcus tadi?
Ta ada jalan untuk mengetahuinya. Yang bisa kulakukan hanyalah memutuskan
apakah aku memercayai Marcus atau tidak.
Walaupun Marcus sudah melakukan hal-hal yang kejam dan
jahat, masyarakat kami tidak dikelompokkan menjadi “baik” dan “jahat”.
Seseorang yang kejam belum tentu tidak jujur. Sama halnya dengan orang yang
berani belum tentu baik hati. Marcus tidak baik atau jahat, tapi keduanya.
“Yah, mungkin lebih banyak jahatnya daripada baiknya.
Namun, itu bukan berarti ia berbohong.
Aku melihat sinar oranye api di jalan di depanku. Karena
cemas, aku mempercepat langkahku. Ternyata api itu berasal dari mangkuk-mangkuk
logam besar seukuran manusia yang dipasang di trotoar. Para Dauntless dan factionless berkumpul di antara
mangkuk-mangkuk itu, dengan celah kecil di antara setiap kelompok. Evelyn,
Harrison, Tori, dan Tobias berdiri di depan mereka.
Setelah melihat Christina, Uriah, Lynn, Zekem dan Shauna di
sebelah kanan kelompok Dauntless, aku berdiri bersama mereka.
“Dari mana kau?” tanya Christina. “Kami mencarimu ke
mana-mana.”
“Aku pergi jalan-jalan. Ada apa?”
“Mereka akhirnya akan mengumumkan rencana penyerangan itu,”
sahut Uriah, tampak bersemangat.
“Oh,” aku berkomentar.
Evelyn mengangkat tangan, dengan telapak ke depan, dan para factionless langsung diam. Mereka lebih
terlatih dibandingkan para Dauntless yang suaranya baru mereda tiga puluh detik
kemudian.
“Selama beberapa minggu terakhir, kami menyusun rencana
untuk melawan faksi Erudite,” Evelyn mengumumkan, suaranya pelan tapi jelas.
“Sekarang, kami sudah selesai dan ingin menceritakannya kepada kalian.”
Evelyn mengangguk ke arah Tori yang kemudian mengambil alih
pembicaraan. “Strategii kita tidak terpusat, tapi melebar. Kita tak mungkin
mengetahui Erudite mana yang mendukung Jeanine dan mana yang tidak. Karena itu,
lebih aman jika kita berasumsi bahwa Erudite yang tidak mendukung Jeanine sudah
pergi dari markas Erudite.”
“Kita semua tahu kekuatan Erudite bukan terletak pada
orang-orangnya, melainkan pada informasi yang mereka miliki,” lanjut Evelyn.
“Selama mereka masih memiliki informasi itu, kita tak akan pernah bebas dari
mereka, terutama jika sebagian besar dari kita terhubung dengan simulasi. Sudah
terlalu lama mereka menggunakan informasi untuk mengendalikan dan memengaruhi
kita.”
Pekikan yang berawal dari factionless kemudian menyebar ke para Dauntless bergemuruh di
kerumunan itu seolah-olah kami semua adalah bagian dari satu organisme, yang
mengikuti perintah satu otak. Namun, aku tak tahu dengan apa yang kupikirkan,
atau apa yang kurasakan. Ada bagian dari diriku yang ikut berseru—berteriak
untuk menghancurkan setiap Erudite dan semua yang mereka sayangi.
Aku memandang Tobias. Air mukanya netral, dan ia berdiri di
belakang cahaya api, sehingga sulit untuk dilihat. Aku bertanya-tanya apa
pendapatnya tentang ini.
No comments:
Post a Comment