Penulis: Suzanne
Collins
Saat tiba di pagar perbatasan, kami melihat sejumlah
Dauntless berdiri di depan sinar lampu depan kami, menghalangi gerbang. Ban
lengan biru mereka tampak mencolok dibandingkan pakaian mereka. Aku berusaha
agar air mukaku tetap menyenangkan. Aku tak mungkin bisa meyakinkan mereka
bahwa aku ini seorang Amity jika mukaku cemberut.
Seorang pria berkulit gelap dengan pistol di tangan
mendekati jendela Marcus. Ia menyorotkan senter ke Marcus, lalu Christinya,
kemudian aku. Aku menyipitkan mata ke arah sinar itu dan memaksakan diri
tersenyum kepadanya seolah-olah tak keberatan sama sekali dengan cahaya terang
yang disorotkan ke mataku dan pistol diacungkan ke kepalaku.
Para Amity pastilah sinting jika mereka benar-benar berpikir
seperti ini. Atau, terlalu banyak makan roti itu.
“Jadi,” kata pria itu, “apa yang dialkukan seorang anggota
Abnegation di dalam truk bersama dua orang Amity?”
“Kedua gadis ini mengajukan diri dengan sukarela untuk
membawa perbekalan ke kota,” Marcus menjelaskan, “dan aku menawarkan diri untuk
mengawasi mereka agar mereka aman.”
“Lagi pula, kami tak tahu cara menyetir mobil,” tambah
Christina sambil menyunggingkan cengiran. “Ayahku pernah mencoba mengajariku
beberapa tahun lalu, tapi aku selalu lupa mana yang gas dan mana yang rem.
Bayangan betapa kacaunya! Untung sekali Joshua
menawarkan diri untuk mengantar kami, karena kalau tidak bisa-bisa kami pergi
lama sekali, lagi pula kotaknya sangat berat—”
Pria Dauntless itu mengangkat tangannya. “Oke, aku mengerti.”
“Oh, tentu. Maaf.” Christina terkikik. “Tadi kupikir
sebaiknya aku menjelaskan karena kau tampak begitu bingung. Tak heran. Seberapa
sering sih kau menghadapai hal yang seperti ini—”
“Ya,” kata pria itu. “Dan kalian berniat kembali ke kota?”
“Tidak dalam waktu dekat,” jawab Marcus.
“Oke. Kalau begitu, silakan.” Pria itu mengangguk ke arah
Dauntless lain di dekat gerbang. Salah satunya mengetikkan serangkaian angka di
papan tombol, lalu gerbang itu pun terbuka untuk kami. Marcus mengangguk ke
arah penjaga yang mengizinkan kami lewat, lalu meluncur di jalan aus menuju
markas Amity. Lampu depan truk menyoroti jejak ban dan rumput di padang rumput
serta serangga yang berayun ke depan dan ke belakang. Di kegelapan di sebelah
kanan, aku melihat kunang-kunang bersinar berirama seperti detak jantung.
Setelah beberapa saat, Marcus melirik ke arah Christina.
“Yang tadi itu apa?”
“Tak ada yang lebih dibenci faksi Dauntless dibandingkan
ocehan ceria Amity,” jelas Christina sambil mengangkat sebelah bahu. “Kupikir
jika ia kesal, maka pikirannya akan teralih sehingga kita diizinkan lewat.”
Aku tersenyum lebar sekali. “Kau genius.”
“Aku tahu.” Ia menyentakkan kepala seakan-akan untuk
melemparkan rambutnya ke belakang salah satu bahu, tapi rambutnya tak cukup panjang.
“Tapi,” kata Marcus, “Joshua itu bukan nama seorang
Abnegation.”
“Memangnya ada yang tahu.:
Aku melihat sinar dari markas Amity di depan, kumpulan
bangunan kayu yang kukenal dengan rumah kaca di tengahnya. Kami meluncur
melintasi kebun apel. Udara di sini beraroma seperti tanah yang hangat.
Aku terkenang ibuku yang mengulurkan tangan untuk memetik
apel di kebun ini, bertahun-tahun lalu saat kami kemari untuk membantu faksi
Amity panen. Dadaku bagai terhunjam, tapi kenangan itu tidak meluap-luap
seperti beberapa minggu yang lalu. Mungkin karena aku di sini dalam misi untuk
menghormati ibuku. Atau, mungkin karena aku terlalu gelisah dengan apa yang
akan terjadi sehingga tidak bisa merasa sedih. Yang jelas, sesuatu yelah
berubah.
Marcus memarkirkan truknya di belakang salah satu kabin
tidur. Aku baru menyadari di kontaknya tak ada kunci.
“Bagaimana caramu menyalakannya?” aku bertanya.
“Ayahku mengajariku banyak hal tentang mesin dan komputer,”
jelas Marcus. “Pengetahuan yang juga kuajarkan ke anakku sendiri. Tentunya kau
tidak berpikir anakku itu mempelajari semuanya sendiri, kan?”
“Sebenarnya, aku memang berpikir begitu.” Aku mendorong
pintu hingga terbuka dan turun dari truk. Rumput membelai jari kaki dan
betisku. Christina berdiri di kananku dan menoleh ke belakang.
“Di sini rasanya begitu berbeda,” katanya. “Kita nyaris bisa
melupakan apa yang terjadi di sana.” Ia mengacungkan ibu jarinya ke
arah kota.
“Mereka juga sering kali begitu,” kataku.
“Tapi, mereka tahu apa yang terjadi di kota, kan?” tanya
Christina.
“Mereka tahu sebanyak yang dikeathui patroli Dauntless,”
jawab Marcus. “Dan, itu adalah dunia luar itu tak dikenal dan mungkin
berbahaya.”
“Kenapa kau bisa mengetahui apa yang mereka ketahui?”
tanyaku.
“Karena itulah yang kami sampaikan kepada mereka,” jawab
Marcus sambil berjalan ke rumah kaca.
Aku saling pandang dengan Christina. Lalu, kami berlari
kecil untuk menyusul Marcus.
“Itu artinya apa?”
“Saat semua informasi dipercayakan kepadamu, kau harus
memutuskan berapa banyak yang perlu diketahui orang-orang,” Marcus menerangkan.
“Para pemimpin Abnegation memberitahukan semua hal yang perlu disampaikan
kepada mereka. Nah, mari berharap Johanna menjalankan kebiasaannya seperti
biasa. Biasanya, ia ada di rumah kaca pada awal sore hari.”
Marcus membuka pintu rumah kaca. Udara di tempat ini berat
seperti saat terakhir kali aku di sini, tapi sekarang udaranya juga berkabut.
Kelembapan itu mendinginkan pipiku.
“Wow,” ucap Christina.
Ruangan itu disinari cahaya bulan, tapi sulit membedakan
mana yang tumbuhan, mana yang pohon, dan mana yang struktur buatan manusia.
Dedaunan membelai wajahku saat aku menyusuri tepi luar ruangan itu. Lalu, aku
melihat Johanna yang sedang berjongkok di samping semak-semak sambil memegang
mangkuk, seperti sedang memetik frambos. Rambutnya diikat ke belakang sehingga
aku bisa melihat bekas lukanya.
“Kupikir tak akan melihatmu di sini lagi, Ms. Prior,” sambut
Johanna.
“Karena seharusnya aku sudah mati?” tanyaku.
“Aku selalu berpikir bahwa orang yang hidup dengan senjata
akan mati karena senjata. Dan, aku sering kali heran sekaligus senang.” Ia
menyeimbangkan mangkuk tadi di lututnya dan mendongak memandangku. “Walaupun
aku juga yakin kau kembali bukan karena suka di sini.”
“Memang bukan,” kataku. “Kami datang untuk hal lain.”
“Baiklah,” katanya sambil berdiri. “Mari bicara.”
Johannya membawa mangkuk itu ke tengah ruangan, tempat rapat
Amity diadakan. Kami mengikutinya ke akar pohon, tempat ia duduk dan menawarkan
semangkuk frambos itu kepadaku. Aku mengambil segenggam dan memberikan mangkuk
itu kepada Christina.
“Johanna, ini Christina,” Marcus memperkenalkan. “Dauntless
kelahiran Candor.”
“Selamat datang di markas Amitu, Christina.” Johanna
tersenyum penuh makna. Aneh sekali betapa dua orang kelahiran faksi Candor
dapat berakhir di tempat yang sangat bertolak belakang: faksi Dauntless dan
faksi Amity.
“Jadi, Marcus,” kata Johanna. “Kenapa kau kemari?”
“Kupikir Beatrice yang seharusnya menjelaskan,” jawab
Marcus. “Aku ini cuma alat transportasi.”
Tanpa bertanya, Johanna mengalihkan pandangannya kepadaku.
Namun dari binar waspada di matanya, aku tahu ia lebih suka bicara dengan
Marcus. Ia akan menyangkal jika aku menanyakannya, tapi aku cukup yakin Johanna
Reyes membenciku.
No comments:
Post a Comment