Penulis: Suzanne
Collins
Beberapa detik kemudian, benakku hening. Apa yang tadi kupikirkan? Tampaknya itu
tak penting. Tak ada yang penting selain kursi di bawahku dan pria yang duduk
di hadapanku.
“Siapa namamu?” tanya Niles.
Begitu ia menanyakan itu, jawabannya langsung muncul di
mulutku. “Beatrice Prior.”
“Tapi kau menyebut dirimu Tris?”
“Benar.”
“Siapa nama orangtuamu, Tris?”
“Andrew dan Natalie Prior.”
“Kau juga Anak Pindahan, ya?”
“Ya,” aku menjawab, tapi suatu pikiran lain berbisik di
belakang benakku. Juga? Juga itu
berarti orang lain, dan di sini, orang lain itu Tobias. Aku mengerutkan kening
sambil berusaha membayangkan Tobias, tapi sulit untuk memaksa bayangannya
muncul di benakku. Tapi, tidak terlalu sulit sehingga aku tak bisa melakukannya.
Aku melihat Tobias, dan kemudian aku melihat kilasan dirinya duduk di kursi
yang kududuki ini.
“Kau dari faksi Abnegation? Dan memilih faksi Dauntless?”
“Ya,” jawabku lagi, tapi kali ini kata itu terdengar kasar.
Aku tak tahu mengapa tepatnya.
“Mengapa kau pindah?”
Pertanyaan itu lebih rumit, tapi aku masih tahu jawabannya. Aku tidak cukup baik untuk menjadi
abnegation sudah ada di ujung lidahku, tapi kalimat lain menggantikannya: Aku ingin bebas. Keduanya benar. Aku
ingin mengatakan keduanya. Aku meremas pegangan kursi sambil berusaha mengingat
di mana aku berada dan apa yang kulakukan. Aku melihat orang-orang di
sekelilingku, tapi aku tak tahu mengapa mereka di sana.
Aku tegang, seperti yang biasa kulakukan saat merasa
mengetahui jawaban suatu pertanyaan tes, tapi gagal mengingatnya. Biasanya, aku
menutup mata dan membayangkan halaman buku teks yang berisi jawabannya. Aku
mengingat-ingat selama beberapa detik, tapi tak bisa. Aku tak ingat.
“Aku tidak cukup baik untuk faksi Abnegation,” kataku, “dan
aku ingin bebas. Jadi, aku memilih faksi Dauntless.”
“Apa yang menyebabkanmu tidak cukup baik?”
“Karena dulu aku egois,” kataku.
“Kau dulu egois?
Sekarang sudah tidak?”
“Tentu saja sekarang masih. Ibuku bilang semua orang itu
egois,” kataku, “tapi, di faksi Dauntless aku menjadi tidak begitu egois. Aku
belajar bahwa ada orang-orang yang pantas untuk kubela. Bahkan, aku rela mati demi mereka.”
Jawaban itu mengejutkanku—tapi kenapa? Aku mengatupkan
bibirku sebentar. Karena memang benar. Jika aku mengatakannya di sini, pastilah
itu benar.
Pikiran itu memunculkan kepingan hilang yang tadi kucari
dalam benakku. Aku di sini untuk uji kebohongan. Semua yang kukatakan itu
benar. Aku merasakan butiran keringat bergulir menuruni tengkukku.
Uji kebohongan. Serum kejujuran. Aku harus mengingatkan
diriku sendiri. Mudah sekali kehilangan kesadaran dalam kejujuran.
“Tris, tolong ceritakan kepada kami apa yang terjadi pada
hari penyerangan itu?”
“Aku bangun,” aku bercerita, “dan semua orang berada di
bawah pengaruh simulasi. Jadi, aku pura-pura mengikutinya sampai menemukan
Tobias.”
“Apa yang terjadi setelah kau dan Tobias berpisah?”
“Jeanine berusaha membuatku mati, tapi ibuku
menyelamatkanku. Ibuku itu dulunya seorang Dauntless, jadi ia tahu cara
menggunakan senjata.” Tubuhku sekarang terasa lebih berat, tapi tidak lagi
dingin. Aku merasakan sesuatu menggeliut di dadaku, sesuatu yan lebih buruk
daripada kesedihan, lebih buruk daripada penyesalan.
Aku tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ibuku mati, lalu aku
membunuh Will. Aku menembaknya. Aku membunuhnya.
“Ibuku mengalihkan perhatian prajurit Dauntless agar aku
bisa lari, dan mereka membunuhnya,” kataku.
Sebagian prajurit
mengerjarku, dan aku membunuh mereka. Tapi, di antara kerumunan di
sekelilingku ada orang-orang Dauntless. Dauntless. Aku membunuh sejumlah
Dauntless. Aku tak boleh mengatakannya di sini.
“Aku terus berlari,” aku melanjutkan, “Lalu ….” Lalu. Will mengejarku. Dan aku membunuhnya.
Tidak, tidak. Aku merasakan keringat di dahiku.
“Lalu, aku menemukan ayah dan kakakku,” kataku, suaraku
tegang. “Kami membuat rencana untuk menghancurkan simulasi itu.”
Tapi lengan kursi menusuk telapak tanganku. Aku merahasiakan
sebagian kebenaran. Tentunya itu dianggap sebagai kebohongan.
Aku berhasil melawan serum itu. Dan untuk sesaat, aku menan.
Seharusnya aku merasa senang. Tapi, aku justru merasa beban
dari tindakanku menekanku lagi.
“Kami menyusup ke kompleks Dauntless. Aku dan ayahku naik ke
ruang kendali. Ia bertarun melawan prajurit Dauntless dan mengorbankan
nyawanya,” kataku. “Aku berhasil mencapai ruang kendali, dan Tobias ada di
sana.”
“Tobias bilang kau melawannya, tapi kemudian tidak lagi.
Kenapa kau berhenti?”
“Karena aku sadar salah satu dari kami harus membunuh yang
lain,” aku menjawab, “dan aku tak mau membunuhnya.”
“Kau menyerah?”
“Tidak!” aku membentak. Aku menggeleng. “Tidak, tidak
seperti itu. Aku ingat sesuatu yang kulakukan di ruang ketakutanku pada saat
inisiasi Dauntless … dalam situasi ini, seorang wanita menyuruhku membunuh
keluargaku, tapi aku justru membiarkannya menembakku. Itu berhasil. Jadi
kupikir …” aku mencubit batang hidungku. Kepalaku mulai terasa sakit, aku tak
bisa mengendalikan diri lagi, dan pikiranku mengalir menjadi kata-kata. “Aku
sangat panic, tapi yang bisa kupikirkan cuma mungkin itu tak ada gunanya. Ada
pengaruhnya. Lagi pula, aku tak bisa membunuhnya, jadi aku harus mencoba taktik
itu.”
Aku mengerjap untuk menyingkirkan air mata.
“Jadi, kau tak pernah berada di bawah pengaruh simulasi?”
“Tidak.” Aku menekankan telapak tanganku ke mata,
menyingkirkan air mata agar tidak jatuh ke pipiku sehingga terlihat oleh semua
orang.
“Tidak,” aku mengulangi. “Tidak. Aku ini Divergent.”
“Hanya memastikan,” kata Niles. “Jadi, kau bilang kau hamper
dibunuh oleh faksi Erudite … lalu berjuang memasuki kompleks Dauntless …
kemudian menghancurkan simulasi itu?”
“Ya,” kataku.
“Kurasa kata-kataku ini mewakili semua orang,” kata Niles,
“kau pantas disebut seorang Dauntless.”
Sorak-sorai membahana dari sebelah kiri ruangan dan aku
melihat tinju-tinju samar yang diacungkan ke kegelapan. Faksiku,
mengelu-elukanku.
Tapi tidak. Mereka salah. Aku tidak berani. Aku tidak
berani. Aku menembak Will dan tak bisa mengakuinya. Aku tak bisa mengakuinya ….
“Beatrice Prior,” lanjut Niles, “apa penyesalan terbesarmu?”
Apa yang kusesali? Aku tidak menyesal memilih faksi
Dauntless atau meninggalkan faksi Abnegation. Aku bahkan tidak menyesal telah
menembak penjaga di luar ruang kendali karena aku harus melewati mereka.
“Aku menyesali ….”
Tatapanku beralih dari wajah Niles dan bergerak menyusuri
ruangan hingga akhirnya menatap Tobias. Air mukanya datar, mulutnya membentuk
garis tegas, tatapannya kosong. Tangannya, yang disilangan di depan dada,
mencengkeram lengannya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Di
sampingnya ada Christina. Dadaku bagai diremas dan aku tak bisa bernapas.
Aku harus mengatakannya kepada mereka. Aku harus mengatakan
yang sebenarnya.
“Will,” kataku. Aku seperti terkesiap, seolah-olah kata itu
ditarik keluar langsung dari perutku. Sekarang, aku tak bisa menarik kembali
kata-kataku itu.
“Aku menembak Will,” kataku, “ia di bawah pengaruh simulasi.
Aku membunuhnya. Ia akan membunuhku, tapi aku membunuhnya. Sahabatku.”
No comments:
Post a Comment