Insurgent (Divergent #2) (26)

Penulis: Suzanne Collins

Beberapa detik kemudian, benakku hening. Apa yang tadi kupikirkan? Tampaknya itu tak penting. Tak ada yang penting selain kursi di bawahku dan pria yang duduk di hadapanku.

“Siapa namamu?” tanya Niles.

Begitu ia menanyakan itu, jawabannya langsung muncul di mulutku. “Beatrice Prior.”

“Tapi kau menyebut dirimu Tris?”

“Benar.”

“Siapa nama orangtuamu, Tris?”

“Andrew dan Natalie Prior.”

“Kau juga Anak Pindahan, ya?”

“Ya,” aku menjawab, tapi suatu pikiran lain berbisik di belakang benakku. Juga? Juga itu berarti orang lain, dan di sini, orang lain itu Tobias. Aku mengerutkan kening sambil berusaha membayangkan Tobias, tapi sulit untuk memaksa bayangannya muncul di benakku. Tapi, tidak terlalu sulit sehingga aku tak bisa melakukannya. Aku melihat Tobias, dan kemudian aku melihat kilasan dirinya duduk di kursi yang kududuki ini.

“Kau dari faksi Abnegation? Dan memilih faksi Dauntless?”

“Ya,” jawabku lagi, tapi kali ini kata itu terdengar kasar. Aku tak tahu mengapa tepatnya.

“Mengapa kau pindah?”

Pertanyaan itu lebih rumit, tapi aku masih tahu jawabannya. Aku tidak cukup baik untuk menjadi abnegation sudah ada di ujung lidahku, tapi kalimat lain menggantikannya: Aku ingin bebas. Keduanya benar. Aku ingin mengatakan keduanya. Aku meremas pegangan kursi sambil berusaha mengingat di mana aku berada dan apa yang kulakukan. Aku melihat orang-orang di sekelilingku, tapi aku tak tahu mengapa mereka di sana.

Aku tegang, seperti yang biasa kulakukan saat merasa mengetahui jawaban suatu pertanyaan tes, tapi gagal mengingatnya. Biasanya, aku menutup mata dan membayangkan halaman buku teks yang berisi jawabannya. Aku mengingat-ingat selama beberapa detik, tapi tak bisa. Aku tak ingat.

“Aku tidak cukup baik untuk faksi Abnegation,” kataku, “dan aku ingin bebas. Jadi, aku memilih faksi Dauntless.”

“Apa yang menyebabkanmu tidak cukup baik?”

“Karena dulu aku egois,” kataku.

“Kau dulu egois? Sekarang sudah tidak?”

“Tentu saja sekarang masih. Ibuku bilang semua orang itu egois,” kataku, “tapi, di faksi Dauntless aku menjadi tidak begitu egois. Aku belajar bahwa ada orang-orang yang pantas untuk kubela.  Bahkan, aku rela mati demi mereka.”

Jawaban itu mengejutkanku—tapi kenapa? Aku mengatupkan bibirku sebentar. Karena memang benar. Jika aku mengatakannya di sini, pastilah itu benar.

Pikiran itu memunculkan kepingan hilang yang tadi kucari dalam benakku. Aku di sini untuk uji kebohongan. Semua yang kukatakan itu benar. Aku merasakan butiran keringat bergulir menuruni tengkukku.

Uji kebohongan. Serum kejujuran. Aku harus mengingatkan diriku sendiri. Mudah sekali kehilangan kesadaran dalam kejujuran.

“Tris, tolong ceritakan kepada kami apa yang terjadi pada hari penyerangan itu?”

“Aku bangun,” aku bercerita, “dan semua orang berada di bawah pengaruh simulasi. Jadi, aku pura-pura mengikutinya sampai menemukan Tobias.”

“Apa yang terjadi setelah kau dan Tobias berpisah?”

“Jeanine berusaha membuatku mati, tapi ibuku menyelamatkanku. Ibuku itu dulunya seorang Dauntless, jadi ia tahu cara menggunakan senjata.” Tubuhku sekarang terasa lebih berat, tapi tidak lagi dingin. Aku merasakan sesuatu menggeliut di dadaku, sesuatu yan lebih buruk daripada kesedihan, lebih buruk daripada penyesalan.

Aku tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ibuku mati, lalu aku membunuh Will. Aku menembaknya. Aku membunuhnya.

“Ibuku mengalihkan perhatian prajurit Dauntless agar aku bisa lari, dan mereka membunuhnya,” kataku.

Sebagian prajurit mengerjarku, dan aku membunuh mereka. Tapi, di antara kerumunan di sekelilingku ada orang-orang Dauntless. Dauntless. Aku membunuh sejumlah Dauntless. Aku tak boleh mengatakannya di sini.

“Aku terus berlari,” aku melanjutkan, “Lalu ….” Lalu. Will mengejarku. Dan aku membunuhnya. Tidak, tidak. Aku merasakan keringat di dahiku.

“Lalu, aku menemukan ayah dan kakakku,” kataku, suaraku tegang. “Kami membuat rencana untuk menghancurkan simulasi itu.”

Tapi lengan kursi menusuk telapak tanganku. Aku merahasiakan sebagian kebenaran. Tentunya itu dianggap sebagai kebohongan.

Aku berhasil melawan serum itu. Dan untuk sesaat, aku menan.

Seharusnya aku merasa senang. Tapi, aku justru merasa beban dari tindakanku menekanku lagi.

“Kami menyusup ke kompleks Dauntless. Aku dan ayahku naik ke ruang kendali. Ia bertarun melawan prajurit Dauntless dan mengorbankan nyawanya,” kataku. “Aku berhasil mencapai ruang kendali, dan Tobias ada di sana.”

“Tobias bilang kau melawannya, tapi kemudian tidak lagi. Kenapa kau berhenti?”

“Karena aku sadar salah satu dari kami harus membunuh yang lain,” aku menjawab, “dan aku tak mau membunuhnya.”

“Kau menyerah?”

“Tidak!” aku membentak. Aku menggeleng. “Tidak, tidak seperti itu. Aku ingat sesuatu yang kulakukan di ruang ketakutanku pada saat inisiasi Dauntless … dalam situasi ini, seorang wanita menyuruhku membunuh keluargaku, tapi aku justru membiarkannya menembakku. Itu berhasil. Jadi kupikir …” aku mencubit batang hidungku. Kepalaku mulai terasa sakit, aku tak bisa mengendalikan diri lagi, dan pikiranku mengalir menjadi kata-kata. “Aku sangat panic, tapi yang bisa kupikirkan cuma mungkin itu tak ada gunanya. Ada pengaruhnya. Lagi pula, aku tak bisa membunuhnya, jadi aku harus mencoba taktik itu.”

Aku mengerjap untuk menyingkirkan air mata.

“Jadi, kau tak pernah berada di bawah pengaruh simulasi?”

“Tidak.” Aku menekankan telapak tanganku ke mata, menyingkirkan air mata agar tidak jatuh ke pipiku sehingga terlihat oleh semua orang.

“Tidak,” aku mengulangi. “Tidak. Aku ini Divergent.”

“Hanya memastikan,” kata Niles. “Jadi, kau bilang kau hamper dibunuh oleh faksi Erudite … lalu berjuang memasuki kompleks Dauntless … kemudian menghancurkan simulasi itu?”

“Ya,” kataku.

“Kurasa kata-kataku ini mewakili semua orang,” kata Niles, “kau pantas disebut seorang Dauntless.”

Sorak-sorai membahana dari sebelah kiri ruangan dan aku melihat tinju-tinju samar yang diacungkan ke kegelapan. Faksiku, mengelu-elukanku.

Tapi tidak. Mereka salah. Aku tidak berani. Aku tidak berani. Aku menembak Will dan tak bisa mengakuinya. Aku tak bisa mengakuinya ….

“Beatrice Prior,” lanjut Niles, “apa penyesalan terbesarmu?”

Apa yang kusesali? Aku tidak menyesal memilih faksi Dauntless atau meninggalkan faksi Abnegation. Aku bahkan tidak menyesal telah menembak penjaga di luar ruang kendali karena aku harus melewati mereka.

“Aku menyesali ….”

Tatapanku beralih dari wajah Niles dan bergerak menyusuri ruangan hingga akhirnya menatap Tobias. Air mukanya datar, mulutnya membentuk garis tegas, tatapannya kosong. Tangannya, yang disilangan di depan dada, mencengkeram lengannya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya ada Christina. Dadaku bagai diremas dan aku tak bisa bernapas.

Aku harus mengatakannya kepada mereka. Aku harus mengatakan yang sebenarnya.

“Will,” kataku. Aku seperti terkesiap, seolah-olah kata itu ditarik keluar langsung dari perutku. Sekarang, aku tak bisa menarik kembali kata-kataku itu.

“Aku menembak Will,” kataku, “ia di bawah pengaruh simulasi. Aku membunuhnya. Ia akan membunuhku, tapi aku membunuhnya. Sahabatku.”



No comments:

Post a Comment